POJOKSATU.id, ACEH—Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil, resmi menandatangani surat ketidaksanggupan daerahnya menangani dampak banjir secara mandiri pada Rabu (3/12/2025).

Dia menilai pemerintah pusat lambat menangani banjir yang terjadi di Aceh Utara yang sudah terjadi sejak 22 November 2025 atau sejak dua pekan lalu.

Dalam rapat evaluasi banjir di Posko Utama Pendopo Bupati, Rabu (3/12) Ismail tidak mampu menyembunyikan emosinya. Dia menangis melihat kondisi korban banjir di daerahnya.

Baca Juga: Proses Pencarian Korban Bencana Alam Terus Dilakukan di Tapanuli Selatan, Polisi Libatkan Anjing Pelacak untuk Mencari Korban Hilang

Ia mengungkapkan bahwa bantuan yang masuk sangat minim, meski banjir telah melanda selama hampir dua pekan.

“Coba buka mata hati kita, coba kita lihat masyarakat. Saya datang ke dalam air, supaya masyarakat mencaci saya. Kenapa mencaci, supaya pusat tahu di Aceh Utara ini ada banjir,” katanya sambil menangis.

Dia mengaku baru dua kali baru datang ke Posko Bencana dan memilih terjun ke lapangan melihat masyarakat dan anak-anak yang kelaparan.

Dia juga sengaja membuat video dimana dia pakai payung agar masyarakat mencacinya dan menjadi viral di media sosial, namun hal itu ternyata tak mempan juga.

Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi akan Terbang ke Sumatera Salurkan Bantuan Rp7 Miliar Bagi Korban Bencana

“Kemarin saya buat video agar masyarakat mencaci saya. Saya pakai payung melihat masyarakat. Agara masyarakat mencaci saya dan viral di media sosial. Agar pusat tahu di Aceh Utara ada banjir. Tapi apa boleh buat,” ujarnya.

Dia sebenarnya sejak awal bencana sudah meminta bantuan kepada pemerintah pusat agar didatangkan helikopter ke Aceh Utara.

“Saya sudah minta helikopter, sampai sekarang belum ada. Baru katanya rencana hari ini, entah jadi entah tidak,” ujarnya lagi.

Ismail menyebutkan, bantuan dari Bulog sejauh ini hanya berupa beras. Sebanyak 120 ton sudah disalurkan, tetapi tambahan 350 ton yang diminta belum terpenuhi.

“Kami hanya ada beras. Saya paham masyarakat kesal, marah, kecewa. Makilah saya. Dengan masyarakat memaki saya, pusat sadar bahwa Aceh Utara ini besar banjirnya. Apakah pusat tidak tahu atau bagaimana? Saya tidak mengerti,” kata Ismail.

Ia juga menyoroti minimnya bantuan dari berbagai instansi, termasuk perusahaan swasta dan lembaga keuangan daerah.

Bank Aceh Syariah hanya membantu beras satu mobil pikap L300. Total bantuan dari berbagai perusahaan, Pemerintah Aceh, dan Basarnas hanya sekitar 10 truk.

Korban Meninggal 112 Orang

Aceh Utara tercatat sebagai daerah paling terdampak. Sebanyak 852 desa terendam banjir dan longsor sejak 22 November 2025 lalu. Hingga kini dua pekan bencana, sejumlah titik masih terisolasi.

Posko Utama Banjir Aceh Utara melaporkan 115.018 warga mengungsi di 447 lokasi pengungsian.

Sebanyak 112 warga Aceh Utara dilaporkan meninggal dunia, sementara 115 lainnya masih hilang, hingga laporan resmi Selasa (2/12).***