POJOKSATU.ID – Fenomena aksi buang ratusan ton susu sapi di kawasan Boyolali, Jawa Tengah kian menarik perhatian publik.
Pasalnya, para peternak di Boyolali ini bertindak demikian lantaran harga susu yang terlalu murah telah merugikan mereka.
Kendati demikian, pajak susu impor dari luar negeri justru dibebaskan yang membuat harganya lebih murah.
Mengetahui hal ini, eks Stafsus Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Yustinus Prastowo turut mencecar kebijakan yang telah ditetapkan.
“Menurut saya, penting dilakukan kajian komprehensif supaya terwujud keadilan,” ucap Yustinus yang dilansir Pojoksatu.id dari akun X miliknya.
“Seluruh pemangku kepentingan didengarkan: aspirasi peternak, industri, importir, dan konsumen perlu dicarikan titik temu yg baik,” lanjutnya.
Yustinus menilai bahwa kebijakan terkait bebas pajak impor susu merupakan tindakan yang merugikan masyarakat.
Sebab, para Industri Pengolahan Susu (IPS) akan lebih memilih produk susu impor daripada milik peternak sapi lokal terkhusus di Boyolali.
“Salah satu kuncinya jangan sampai ada pemburu rente yg diuntungkan oleh kebijakan, dan merugikan kepentingan orang banyak,” terangnya.
Fenomena tersebut juga turut ditanggapi oleh Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi.
Yang mana, Budi menjelaskan akan melakukan penyelarasan kebijakan terhadap para pelaku usaha susu sapi.
Baca Juga: Putri Pahlawan Hukum Kusumah Atmaja Diberi Bantuan Kemensos
“Kemenkop akan berkoordinasi dengan koperasi susu dan IPS,” Untuk menjamin penyerapan produksi," ucapnya.
Sebab, penetapan bebas pajak ini ini membuat para pelaku IPS lebih memilih impor ke luar negeri.
Padahal, susu sapi yang diproduksi para peternak lokal diketahui lebih berkualitas daripada hasil impor.
"Susu skim secara kualitas jauh di bawah susu sapi segar, karena sudah melalui berbagai macam proses pemanasan (ultra proses)," terangnya. ***



