POJOKSATU.ID - Di sebuah sekolah sederhana di pinggiran Yogyakarta, deretan anak berseragam merah-putih tampak serius.
Menirukan kata-kata asing dari gurunya. “Annyeonghaseyo,” ucap mereka kompak.
Disambut tawa kecil dan semangat belajar yang jarang terlihat sebelumnya.
Pemandangan itu kini bukan lagi hal langka.
Baca Juga: Panggilan Energi dari Kota Sukabumi, PKK sebagai Pilar Utama Menuju Indonesia Emas
Program pembelajaran bahasa asing di Sekolah Rakyat, yang baru diluncurkan pemerintah.
Mulai berjalan di sejumlah daerah sejak Oktober 2025.
Tak hanya bahasa Inggris, kini murid-murid desa juga bisa belajar bahasa Korea, Jepang, dan Mandarin.
Bahkan disiapkan tenaga pengajar dari lembaga kebudayaan asing yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia.
Baca Juga: Menteri dengan Skor Terendah Mengapa Bahlil Lahadalia Dikritik Malah Siap Hentikan Impor Solar 2026
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyebut.
Program ini merupakan bagian dari “Sekolah Rakyat Global”,
Sebuah inisiatif untuk memperluas akses pendidikan internasional bagi anak-anak di daerah.
Sumarno Wahid mengatakan selama ini bahasa asing dianggap milik sekolah unggulan di kota.
"Sekarang kami ingin anak-anak desa juga punya kesempatan yang sama” katanya dikutip dari Kompas.com 3 November 2025.
Menurutnya, bahasa asing akan menjadi modal penting menghadapi era globalisasi.
Di mana tenaga kerja dan industri kreatif semakin terhubung lintas negara.
“Jangan sampai generasi di daerah tertinggal dalam kemampuan berbahasa. Ini bukan sekadar soal komunikasi, tapi soal masa depan,” tegasnya.
Program kerja sama pendidikan ini melibatkan sejumlah lembaga internasional ternama.
Seperti Korea Foundation, Japan International Cooperation Agency (JICA), serta Chinese Language Council International.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berupaya memperluas akses pelajar Indones
Terhadap pembelajaran bahasa asing dan memperkuat kompetensi lintas budaya sejak dini.
Baca Juga: Validasi Data Dapodik Bermasalah? Begini Cara Perbaiki Agar SKTP Cepat Terbit!
Di sejumlah sekolah rakyat percontohan di Jawa Tengah, Sulawesi, dan Kalimantan.
Para siswa kini mulai mengenal dasar percakapan dalam berbagai bahasa Asia.
Mulai dari sapaan sederhana dalam bahasa Korea hingga perkenalan diri menggunakan bahasa Jepang.
Kegiatan ini tidak hanya memperkaya kemampuan linguistik.
tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya dari negara asal bahasa tersebut.
Suasana belajar di kelas menjadi lebih hidup dan interaktif.
Guru-guru mengemas pembelajaran dengan pendekatan kreatif.
seperti menggunakan lagu, potongan drama, dan permainan peran, agar siswa lebih mudah memahami dan menikmati proses belajar.
Banyak murid yang awalnya tertarik karena pengaruh musik K-Pop, anime Jepang, atau film Mandarin.
Baca Juga: TPG ASN Daerah 2025 Capai Rp14,7 Triliun, Tapi Banyak yang Belum Cair? Ini Data Lengkapnya!
Namun kemudian menunjukkan minat yang lebih mendalam terhadap struktur bahasa dan kebudayaan di baliknya.
Di beberapa sekolah, kelas bahasa asing bahkan menjadi kegiatan favorit.
Anak-anak merasa tertantang untuk menirukan pengucapan asli dan mencoba berdialog singkat dengan teman-temannya.
Selain memperluas wawasan, program ini juga dinilai mampu menumbuhkan kepercayaan diri.
Baca Juga: TPG ASN Daerah 2025 Capai Rp14,7 Triliun, Tapi Banyak yang Belum Cair? Ini Data Lengkapnya!
Serta memperkenalkan pentingnya komunikasi global di era modern.
Dengan pendekatan yang menyenangkan dan relevan dengan minat generasi muda.
Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun generasi pelajar Indonesia yang terbuka terhadap dunia dan siap bersaing di tingkat internasional.
Meski semangat belajar tinggi, tantangan tetap ada.
Tak semua sekolah memiliki guru dengan kemampuan bahasa asing memadai.
Karena itu, Kemendikbud bekerja sama dengan volunteer linguistik dan mahasiswa bahasa dari berbagai universitas negeri.
Selain guru, infrastruktur juga menjadi tantangan.
Banyak sekolah rakyat belum memiliki perangkat digital seperti proyektor atau koneksi internet yang stabil.
Namun pemerintah berjanji menyediakan fasilitas bertahap lewat dana BOS tematik pendidikan global.
Program “Sekolah Rakyat Global” diharapkan menjangkau 10.000 sekolah dasar dan menengah dalam tiga tahun ke depan.
“Bahasa asing adalah tiket masa depan. Anak-anak kita harus siap menghadapi dunia, bukan hanya di negeri sendiri,” tegas Sumarno Wahid.
Sementara di ruang kelas sederhana itu, suara anak-anak desa kembali terdengar. “Ohayou gozaimasu!” teriak mereka serempak.
Dari ujung-ujung desa, masa depan Indonesia perlahan mulai berbicara.
Dalam banyak bahasa.Pemerintah menargetkan minimal dua bahasa asing diajarkan di setiap sekolah percontohan.***




