POJOKSATU.ID - Setiap kali hujan deras mengguyur Jakarta Selatan, rasa cemas langsung muncul di wajah warga Kemang.
Mereka tahu, Kali Krukut bisa meluap kapan saja.
Tapi di balik rasa waswas itu, perlahan tumbuh harapan bahwa sungai yang selama ini dianggap sumber masalah, sebenarnya bisa diselamatkan.
Baca Juga: Belum Lulus UKPPPG Guru Tertentu Tahap 2? Jangan Khawatir, Ini yang Harus Dipersiapkan
Luapan Kali Krukut yang beberapa kali menenggelamkan kawasan Kemang menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga sungai.
Pemerintah kini tengah mengebut proyek normalisasi, tapi warga sadar: menjaga sungai tak bisa diserahkan pada alat berat semata.
Sungai Tak Akan Sembuh Tanpa Peran Warga
Bagi Rini, pedagang kecil di Kemang Timur, sungai bukan lagi sekadar pemandangan di belakang rumah.
Baca Juga: 7 Tempat Rekreasi Murah di Jakarta! Cocok Buat Healing Cepat Tanpa Cuti Panjang
Ia belajar dari pengalaman banjir sebelumnya, bahwa perilaku kecil bisa membawa dampak besar.
Komunitas lokal seperti Krukut Bersih kini rutin mengadakan kegiatan gotong-royong membersihkan bantaran sungai setiap dua minggu.
Mereka bukan hanya mengangkat sampah, tapi juga menanam pohon kecil di sepanjang tepian kali untuk memperkuat tanah dan menambah resapan air.
Lebih dari Sekadar Normalisasi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempercepat normalisasi Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer.
Baca Juga: Lolos UKPPPG Guru Tertentu? Ini Tahapan Selanjutnya yang Harus Anda Siapkan
Proyek ini meliputi pelebaran sungai, pengerukan sedimen, dan penguatan tanggul.
Tapi para ahli mengingatkan, normalisasi fisik saja tak cukup.
Menurutnya, yang dibutuhkan adalah pendekatan holistik gabungan antara rekayasa teknis dan perubahan sosial.
Gerakan Kolaboratif Pemerintah, Warga, dan Komunitas
Pemprov DKI melalui Dinas Sumber Daya Air kini membuka program river adoption, di mana komunitas atau sekolah dapat mengadopsi segmen sungai tertentu untuk dirawat secara rutin.
Baca Juga: Sebelum Kontrak Berakhir, PPPK Wajib Tingkatkan Kompetensi dan Usulkan Regulasi Baru
Program ini juga melibatkan pelajar dalam edukasi lapangan tentang pentingnya air bersih dan pengelolaan sampah rumah tangga.
Selain itu, pemerintah bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) untuk mengintegrasikan drainase antarwilayah.
karena air yang mengalir ke Kali Krukut berasal juga dari Depok dan sekitarnya.
Baca Juga: Cek Sekarang! In Rincian Gaji Pokok PNS dan PPPK 2025 Lengkap dengan Tunjangan Terbarunya
Kolaborasi lintas daerah ini penting agar penanganan banjir tak berhenti di batas administratif.
Edukasi Lingkungan yang Dimulai dari Rumah
Salah satu faktor kunci yang sering diabaikan adalah perilaku domestik.
Sampah rumah tangga dan minyak goreng bekas yang dibuang ke saluran air berkontribusi besar terhadap penyumbatan.
Baca Juga: Dugaan PPPK Siluman di Palu, Honorer Ungkap Kejanggalan Seleksi
Menurut data Dinas Lingkungan Hidup DKI, lebih dari 60 persen sampah di sungai Jakarta berasal dari rumah tangga.
Beberapa kafe di Kemang juga mulai ikut berpartisipasi, Mereka menyediakan tempat sampah terpisah dan menampung air hujan untuk menyiram tanaman.
Harapan Baru dari Gerakan Kecil
Bagi banyak orang, bicara tentang banjir sering diartikan sebagai masalah besar yang butuh dana besar.
Baca Juga: Prabowo: Pemimpin Sejati Harus Pahami Arah Perjuangan Bangsa
Tapi bagi warga Kemang, perubahan kecil sudah jadi awal yang besar.
Kesadaran kolektif seperti inilah yang perlahan membentuk ekosistem partisipatif warga menjaga, pemerintah memfasilitasi, dan komunitas mengawasi.
Dengan cara itu, Kali Krukut tak lagi hanya menjadi simbol bencana, tapi juga simbol perubahan.***




