POJOKSATU.ID - Drama panjang tuduhan ijazah palsu terhadap Joko Widodo kembali mencapai titik panas baru.

Setelah sekian lama memilih bungkam, mantan Presiden RI itu akhirnya bereaksi keras dalam wawancara eksklusif Kompas TV pada 9 Desember 2025.

Tidak lagi menahan diri, Jokowi menantang seluruh penuduhnya bertemu di meja hijau dan menutup segala pintu damai.

Ia menegaskan bahwa diamnya selama ini bukan karena takut, tetapi karena memegang prinsip hukum bahwa pihak yang menuduhlah yang wajib membuktikan.

Baca Juga: Memutuskan Bekerja di Jakarta, Ketiga Alumni Fakultas Teknik Universitas Lampung Pulang Tinggal Nama dalam Peristiwa Kebakaran Terra Drone

Dalam pernyataannya, Jokowi menyebut secara terang bahwa ada agenda terstruktur untuk merusak reputasinya.

Dengan nada sinis, ia mengaku bisa merasakan adanya operasi politik yang sengaja menyeret-nyeret namanya.

“Meskipun saya enggak merasa punya reputasi apa-apa,” ujarnya, dikutip dari Kompas, 9 Desember 2025.

Namun tersirat sindiran tajam yang menunjukkan bahwa dirinya muak dengan isu yang terus dipelihara selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Daftar Formasi CPNS 2026 Lulusan SMA Tanpa Tes Fisik Ketat, Ini Jabatan dan Tahap Seleksinya

Ia bahkan menyebut adanya sosok “big boss” di balik manuver ini.

Ketika diminta menyebut nama, Jokowi hanya menjawab singkat, “Gampang ditebak lah,”.

Sebuah jawaban yang justru mempertebal aroma konflik politik tingkat tinggi.

Di tengah serangan itu, Jokowi menyesalkan obsesi sebagian pihak terhadap isu yang baginya tidak lebih dari tuduhan murahan.

Ia menilai bangsa ini justru membuang energi pada polemik remeh di saat dunia sedang diguncang perubahan besar.

Terutama soal Artificial Intelligence (AI) yang menurutnya jauh lebih krusial untuk masa depan Indonesia.

Namun sikap lunak Jokowi kini berubah total. Ia menegaskan tak ada mediasi, tak ada perdamaian.

Kasus harus diselesaikan lewat palu hakim agar masyarakat belajar bahwa fitnah terhadap pejabat publik tidak bisa lagi dibiarkan begitu saja.

Baca Juga: Setelah APBN 2026 Disahkan, DPR Soroti Celah Pajak dan Tata Niaga Batu Bara, Pemerintah Diminta Hentikan Permainan Lama

Jokowi bahkan menantang untuk membawa seluruh ijazah dari SD hingga universitas ke persidangan sebagai bukti fisik.

Sementara itu, babak hukum di Pengadilan Negeri Solo semakin memanas.

Gugatan citizen lawsuit yang diajukan dua alumni UGM, Top Taufan dan Bangun Sutoto, memasuki fase krusial.

Dalam putusan sela, majelis hakim menolak seluruh eksepsi dari pihak Jokowi maupun Universitas Gadjah Mada.

Baca Juga: Bank Mandiri Pertahankan Gelar Juara ARA 2024, Kokohkan Rekor Empat Tahun Beruntun

Artinya, pengadilan menyatakan sah dan berwenang melanjutkan perkara ini.

Situasi memanas karena majelis hakim yang mengadili kasus ini juga diganti akibat promosi jabatan, sehingga sidang kini dipimpin Achmad Satibi.

Sidang pembuktian dijadwalkan berlangsung pada 23 Desember 2025.

Di sinilah penggugat wajib membuktikan tuduhannya dengan dokumen resmi, bukan sekadar narasi media sosial.

Pihak penggugat menyebut putusan sela ini sebagai “kemenangan rakyat”, sementara kubu Jokowi memilih berhati-hati namun siap menghadapi semua tuntutan.

Dengan isu yang terus membara, publik kini menunggu apakah pengadilan mampu menjawab pertanyaan terbesar: apakah benar ada “orang besar” yang menyetir isu ini?

Ataukah polemik ijazah Jokowi akan kembali menjadi drama tak berkesudahan di panggung politik Indonesia?***