POJOKSATU.id – Polemik rekening Supriyono alias Botok berpotensi meninggalkan dampak yang lebih panjang bagi Bank Mandiri dibanding sekadar pergerakan saham.
Persoalan bermula ketika rekening Botok yang disebut berisi sekitar Rp80,9 juta tidak dapat digunakan menjelang rencana aksi pada 27 Agustus 2026. Botok menyebut dana tersebut terdiri dari uang pribadi dan donasi masyarakat.
Bank Mandiri sebelumnya menyampaikan bahwa tindakan terhadap rekening tersebut dilakukan atas permintaan aparat penegak hukum dan telah mengikuti prosedur serta ketentuan yang berlaku.
Namun, Polda Metro Jaya kemudian meluruskan istilah tersebut. Polisi menyatakan penyidik mengajukan permohonan penundaan transaksi, bukan pemblokiran rekening.
“Perlu kami luruskan bahwa yang diajukan penyelidik adalah permohonan penundaan transaksi. Jadi, hal ini berbeda dengan pemblokiran rekening,” kata Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Senin (24/8/2026).
Di sinilah persoalan reputasi Bank Mandiri menjadi penting.
Harian Disway mencatat polemik tersebut memicu ribuan komentar di akun Instagram resmi Bank Mandiri.
Bahkan muncul seruan di media sosial untuk melakukan penarikan dana secara massal.
Baca Juga: Logo Mandiri di Gedung Bank Mandiri Thamrin Hilang Usai Rekening Donasi Demo Rp80,9 Juta Diblokir
Artinya, dampak yang perlu diperhatikan bukan hanya nilai saham, melainkan trust.
Dalam bisnis perbankan, kepercayaan merupakan aset yang sulit diukur tetapi sangat menentukan.
Ketika sebuah bank menjadi pusat polemik mengenai akses nasabah terhadap dana, persepsi publik dapat berkembang lebih cepat dibanding penjelasan resmi.
DPR pun ikut meminta klarifikasi. Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan pihaknya ingin mengetahui dasar tindakan terhadap rekening tersebut.
Baca Juga: DPR Fraksi PKB Minta Klarifikasi Pemblokiran Rekening Botok Terkait Rencana Demo 27 Agustus
“Bisa jadi kalau misalkan ada indikasi-indikasi lalu lintas transfer itu yang membahayakan atau sumbernya seperti apa, kita akan tanya Bank Mandirinya nanti ya,” ujar Cucun.
Dengan demikian, kerugian yang harus diperhatikan bukan hanya angka di lantai bursa.***



