POJOKSATU.id, Purwokerto — Produk yang dibuat warga binaan di balik tembok Lapas Kelas IIA Purwokerto kini melangkah jauh ke pasar internasional.

Sebanyak 400 lembar Coco Sheet hasil produksi mereka resmi dilepas untuk dikirim ke China dan digunakan sebagai salah satu komponen industri kasur.

Ekspor perdana tersebut dilepas pada Sabtu (8/8) dan disaksikan langsung Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi bersama jajaran pimpinan tinggi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas).

Baca Juga: Kasus Eks Istri Polisi Tewas di Medan, Komisi III Panggil Polda Sumut dan Polrestabes Selasa Depan

Capaian ini menjadi menarik karena Coco Sheet yang diekspor bukan sekadar produk hasil pelatihan keterampilan.

Produk tersebut telah masuk ke rantai industri dan memiliki pembeli di luar negeri melalui kerja sama dengan PT Chewy Louis.

Coco Sheet sendiri merupakan lembaran yang dibuat dari sabut kelapa yang dipadatkan.

Baca Juga: Kurir Narkoba Terperosok ke Parit Usai Dikejar Polisi Tengah Malam, 24 Ball Ganja Madina Diamankan

Dalam industri kasur, material ini digunakan sebagai lapisan dasar atau penyangga sebelum bagian busa maupun pegas.

Produksinya di Lapas Kelas IIA Purwokerto baru berjalan sekitar dua bulan.

Meski terbilang singkat, kegiatan tersebut sudah melibatkan 15 warga binaan dan menghasilkan produk yang mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Baca Juga: Cara Setting Kamera Laptop agar Tidak Mirror di Windows dan Mac, Mudah untuk Zoom hingga Teams

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi menilai keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian di lapas bisa berkembang lebih jauh dari sekadar memberikan aktivitas kepada warga binaan.

Menurut dia, keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat diarahkan menjadi kegiatan produktif yang menghasilkan nilai ekonomi.

Bahkan, jika dikelola secara konsisten, produk tersebut bisa memiliki pasar hingga ke luar negeri.

Baca Juga: Webinar Gratis Future Educators Bahas Digitalisasi Pembelajaran yang Mudah Diterapkan Guru, Dapat Sertifikat Resmi

“Apresiasi kepada Lapas Kelas IIA Purwokerto atas capaian ekspor 400 pcs coco sheet ke China. Ini menjadi bukti bahwa hasil pembinaan kemandirian di lapas mampu menghasilkan produk yang bernilai ekonomi dan memiliki pasar di tingkat internasional,” kata Mashudi.

Bagi warga binaan yang terlibat, kegiatan seperti ini juga memiliki arti lebih panjang.

Mereka tidak hanya menjalani proses pembinaan selama berada di lapas, tetapi juga mendapatkan pengalaman bekerja dalam proses produksi yang menyesuaikan kebutuhan industri.

Baca Juga: Bukan Sekadar Juara, AXIS Nation Cup 2026 Jadi Panggung Pemain Futsal Muda Bogor

Bekal tersebut diharapkan dapat menjadi modal ketika mereka nantinya kembali ke masyarakat.

Kemampuan mengolah bahan, memahami proses produksi, hingga mengenal standar kebutuhan pasar menjadi pengalaman yang berpotensi digunakan untuk mencari pekerjaan ataupun mengembangkan usaha.

Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto Aliandra mengatakan pihaknya akan mempertahankan sekaligus mengembangkan program pembinaan yang memiliki orientasi jelas terhadap kebutuhan pasar.

Baca Juga: 17 Tahun Cetak Agen Perubahan, AHM Kalibrasi Kompetensi Instruktur Safety Riding Terbaik se-Indonesia

Menurut Aliandra, capaian ekspor perdana tersebut tidak lepas dari kerja sama seluruh jajaran dalam membangun kegiatan pembinaan yang benar-benar memberikan manfaat bagi warga binaan.

“Capaian ini merupakan hasil kerja sama dan komitmen seluruh jajaran dalam menghadirkan program pembinaan kemandirian yang memberikan manfaat nyata bagi warga binaan. Kami akan terus mendorong pengembangan produk-produk unggulan agar semakin berkualitas dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Aliandra.

Ekspor Coco Sheet ke China juga memperlihatkan upaya Lapas Purwokerto untuk tidak berhenti pada satu jenis produk.

Baca Juga: Rapat Pertama Dewan Syuro dan Tanfidziah PKB Madina, Pengurus Kecamatan Kita Selama Ini Adalah Tokoh

Sebelumnya, lapas tersebut telah bekerja sama dengan PT Chewy Louis untuk mengekspor produk mainan anjing ke pasar Eropa.

Dengan demikian, kegiatan produksi di dalam lapas mulai diarahkan pada model pembinaan yang terhubung dengan kebutuhan industri dan peluang pasar.

Produk yang dihasilkan tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas warga binaan selama menjalani masa pidana, tetapi juga memiliki nilai jual dan tujuan pemasaran yang jelas.

Baca Juga: Rapat Pertama Dewan Syuro dan Tanfidziah PKB Madina, Pengurus Kecamatan Kita Selama Ini Adalah Tokoh

Bagi pemasyarakatan, pola semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan kemandirian.

Warga binaan didorong untuk memiliki keterampilan yang dapat digunakan setelah bebas, sementara hasil produksinya memiliki peluang memberikan manfaat ekonomi.

Keberhasilan 400 lembar Coco Sheet menembus pasar China pun menjadi langkah awal bagi Lapas Purwokerto untuk memperluas pasar produk hasil pembinaan.

Baca Juga: SIAK-NG Resmi Ditutup Mulai 6 Agustus 2026 Pukul 18.00 WIB, UI Beralih ke SLCM, Ini Jadwal Pentingnya

Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas, kesinambungan produksi, serta memenuhi kebutuhan pasar agar kerja sama serupa dapat terus berkembang.

Jika upaya tersebut berjalan konsisten, tembok lapas tidak lagi menjadi batas bagi hasil karya warga binaan.

Dari Purwokerto, produk yang dibuat melalui program pembinaan justru bisa masuk ke industri di negara lain.***