POJOKSATU.id – Kasus dugaan keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, terus berkembang.
Jumlah santri yang mendapat penanganan medis kini mencapai 500 orang.
Mereka tersebar di delapan rumah sakit untuk mendapatkan perawatan setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG.
Dari total tersebut, 320 santri telah diperbolehkan pulang, 65 masih menjalani rawat inap, sementara 115 lainnya masih dalam observasi.
Baca Juga: MBG Bikin Santri Tumbang, BBPOM Turun Tangan: Ada Apa dengan Dapur SPPG?
Angka ini meningkat cukup tajam dari laporan sebelumnya yang menyebut 293 santri mendapat perawatan.
512 Korban dari 19 Lembaga
Kasus ini juga disebut tidak hanya dialami santri Ponpes Manbaul Hikam.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut terdapat 512 orang dari 19 lembaga yang mengalami gangguan kesehatan setelah menerima makanan MBG dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo.
Kondisi tersebut membuat SPPG Kalitengah menjadi sorotan.
Meski demikian, pemerintah belum menetapkan makanan tertentu sebagai penyebab kejadian karena pemeriksaan masih berlangsung.
Baca Juga: Terjadi Lagi! 293 Santri Tumbang Usai Santap MBG, Ambulans Banjiri Ponpes Manbaul Hikam
Artinya, istilah “keracunan” masih merupakan dugaan sampai hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi dari pihak berwenang selesai.
SPPG Kalitengah Disuspend
Sebagai langkah penanganan, operasional SPPG Kalitengah untuk sementara dihentikan atau disuspend.
Emil Dardak membenarkan langkah tersebut dan menyebut penghentian sementara merupakan bagian dari prosedur yang diterapkan Badan Gizi Nasional (BGN) ketika terjadi dugaan keracunan makanan.
“Iya, di-suspend. Itu sudah SOP ya dari BGN,” kata Emil.
Baca Juga: MBG Bikin Santri Tumbang, BBPOM Turun Tangan: Ada Apa dengan Dapur SPPG?
Penghentian sementara tersebut dilakukan sembari menunggu proses evaluasi dan pemeriksaan terhadap SPPG yang memasok makanan kepada para penerima MBG.
Pemerintah juga masih menelusuri proses pengolahan hingga distribusi makanan untuk mencari titik persoalan.
BBPOM Turun Tangan Periksa SPPG
Kasus yang melibatkan ratusan penerima MBG ini turut mendapat perhatian Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya.
Tim BBPOM Surabaya turun langsung ke SPPG untuk melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan informasi mengenai dugaan gangguan kesehatan yang dialami para santri.
Kepala BBPOM Surabaya Yudi Noviandi mengatakan pihaknya prihatin atas kejadian tersebut.
Baca Juga: 80 Sekolah Swasta Elite Tak Lagi Dapat MBG, BGN Ungkap Alasannya
“Kami turut merasa prihatin dan sedih atas kejadian yang menimpa para korban. Saat ini tim dari Balai Besar POM di Surabaya sedang turun langsung ke SPPG.”
BBPOM juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo serta instansi terkait untuk menggali informasi lebih lengkap mengenai penyebab kejadian.
“Intinya guna menetapkan apa sih penyebab dari peristiwa keracunan pangan ini sampai terjadi.”
Pemeriksaan tersebut menjadi penting karena hingga kini belum ada kesimpulan resmi mengenai makanan atau tahapan tertentu yang menjadi penyebab munculnya keluhan kesehatan.
Baca Juga: ATM MBG Usulan Romy Soekarno Segera Dibahas Komisi IX DPR, Bantuan Rp15 Ribu per Langsung ke Siswa
Santri Mengalami Mual hingga Muntah
Peristiwa tersebut bermula pada Selasa (1/9/2026), ketika makanan MBG dibagikan kepada para santri.
Makanan dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan mulai dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB.
Menu yang diberikan terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tumis baby corn dan buncis, tempe bumbu Bali, serta buah apel.
Beberapa jam kemudian, sejumlah santri mulai mengalami berbagai keluhan kesehatan.
Baca Juga: Pigai Berkata: MBG Itu Mulia yang Menolak Berarti Ingin Mati
Gejala yang dilaporkan antara lain pusing, mual, muntah, diare hingga sesak napas.
Kondisi tersebut kemudian membuat pihak pesantren meminta bantuan ambulans untuk mengevakuasi para santri ke sejumlah fasilitas kesehatan.
Salah seorang santriwati, Syaza (15), sebelumnya mengaku merasakan rasa kecut pada sayuran yang disantapnya.
Namun, kesaksian tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa sayuran merupakan penyebab gangguan kesehatan. Penentuan penyebab tetap menunggu pemeriksaan dan hasil uji laboratorium.
Kapolresta Pastikan Korban Mendapat Penanganan
Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing juga mendatangi sejumlah rumah sakit untuk melihat kondisi para santri yang menjalani perawatan.
Ia memastikan para korban mendapatkan penanganan medis.
“Semoga segera pulih dan sehat kembali. Kami pastikan aman dan tim medis telah melakukan penanganan secara maksimal.”
Polisi juga mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua santri, agar tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial dan menunggu informasi resmi dari pihak berwenang.
Baca Juga: Gandeng Kemendikdasmen, BGN Sasar 658.300 Guru di Tiga Provinsi, Lakukan Edukasi Gizi Program MBG
Kasus MBG Kembali Jadi Sorotan
Kasus di Sidoarjo ini kembali menempatkan aspek keamanan pangan dan pengawasan program MBG dalam sorotan.
Dengan jumlah korban yang mencapai ratusan orang, pemeriksaan terhadap SPPG menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan berjalan sesuai standar.
Namun, sampai saat ini belum ada kesimpulan resmi bahwa MBG merupakan penyebab langsung para santri mengalami gangguan kesehatan.
Baca Juga: Putusan MK Soal MBG Bikin Skema Anggaran Pendidikan Berubah, Komisi X Soroti Dampaknya
Hasil pemeriksaan BBPOM, Dinas Kesehatan, kepolisian, dan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengungkap penyebab sebenarnya.



