POJOKSATU.id - Sampah plastik yang selama ini hanya dianggap limbah ternyata bisa disulap menjadi bahan bakar berkualitas tinggi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan teknologi pirolisis Fastpol yang mampu mengolah sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair bernama Petasol, sebuah inovasi yang digadang-gadang mampu menjadi solusi persoalan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Teknologi tersebut resmi diperkenalkan di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Baca Juga: Bawah Tanah

Inovasi ini ditujukan untuk mengolah sampah plastik low value atau plastik yang selama ini sulit didaur ulang karena tidak memiliki nilai jual.

Melalui teknologi Fastpol, berbagai jenis sampah plastik residu seperti kemasan multilayer, plastik campuran, hingga limbah plastik lainnya diubah menjadi bahan bakar cair yang dapat dimanfaatkan untuk mesin diesel.

Periset Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Heru Susanto, menjelaskan proses tersebut memanfaatkan teknologi pirolisis, yakni dekomposisi termokimia material plastik pada suhu 250 hingga 350 derajat Celsius dengan sedikit atau tanpa oksigen.

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Perintahkan Peradilan Iran Proses Hukum Dugaan Kejahatan Perang dari AS dan Israel

Menurut Heru, proses ini pada dasarnya mengembalikan plastik yang berasal dari minyak bumi menjadi bahan bakar yang dapat dimanfaatkan kembali.

"Dengan teknologi ini, sampah plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Satu kilogram sampah plastik residu mampu menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter PETASOL," ujar Heru.

Ia menjelaskan, proses pengolahan berlangsung sekitar tujuh hingga delapan jam.

Baca Juga: Terseret Kasus Meninggalnya Dokter Icha, Anggota DPRD dari PDIP Buka Suara Soal Dugaan Intimidasi

Setelah itu, bahan bakar masih harus melewati proses penjernihan dan penyaringan hingga siap digunakan.

Selain membantu mengurangi volume sampah plastik, teknologi ini juga dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan karena biaya produksinya relatif rendah dibandingkan nilai manfaat bahan bakar yang dihasilkan.

"Fokus kegiatan ini adalah penanganan dan pengurangan sampah plastik low value yang selama ini menjadi residu di TPST maupun bank-bank sampah, adapun BBM Petasol merupakan bonus yang menjadikan pelaku daur ulang maupun pelaku lingkungan tertarik mengambil bagian karena peluang ekonominya sehingga bisa berkelanjutan," jelas Heru.

Baca Juga: Simbolis Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Dianalisa PSI Mampu Bersaing dengan PDIP

Meski begitu, Heru menegaskan bahwa keberhasilan pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada kecanggihan mesin.

Pemilahan sampah sejak dari rumah tetap menjadi faktor penting agar proses pengolahan berjalan lebih efisien.

Ia menilai kolaborasi antara teknologi dan sistem pengelolaan sampah yang baik menjadi kunci keberhasilan pengembangan inovasi tersebut.

"Teknologi Fastpol Petasol yang sudah tervalidasi bertemu dengan pegiat lingkungan seperti KSM Pilah Berkah yang memberi layanan paripurna, semua sampah terpilah diangkut. Hal ini didukung data base realtime menjadi kekuatan untuk manajemen sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan," ucapnya.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Minta Wangneng Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal dalam Proyek PSEL

Dari sisi kualitas, BRIN mengklaim Petasol memiliki performa pembakaran yang bahkan melampaui standar solar pada umumnya.

Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan, mengatakan hasil pengujian menunjukkan Petasol memiliki angka setana (cetane number) sebesar 51.

Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan standar solar yang umumnya berada di kisaran angka 48.

"Angka setana menjadi indikator kualitas pembakaran pada bahan bakar diesel. Petasol memiliki angka cetane 51 sehingga kualitas pembakarannya tergolong sangat baik," jelas Edi.

Baca Juga: Hebat! SMPN 2 Karawang Timur Borong 5 Trofi dan Raih Gelar Juara Umum Kejurcab Paskibra Karawang

BRIN masih terus melakukan penyempurnaan agar seluruh parameter bahan bakar dapat memenuhi standar yang berlaku, termasuk terkait berat jenis serta aspek regulasi.

"Pada prinsipnya ini aman digunakan untuk kendaraan," lanjutnya.

Ke depan, BRIN membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah daerah, masyarakat, hingga sektor industri agar teknologi Fastpol dapat dimanfaatkan di lebih banyak wilayah.

"BRIN membuka banyak opsi terkait inovasi atau teknologi yang bisa dikerjasamakan dengan daerah melalui kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah daerah, maupun industri. Salah satunya mesin pirolisis untuk menanggulangi permasalahan sampah ini," ujar Edi.

Baca Juga: Meriah! Kapolres Cup Kicau Mania 2026 Jadi Ajang Prestasi dan Kebersamaan Pecinta Burung di Karawang

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyambut positif inovasi tersebut.

Menurutnya, teknologi Fastpol mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni mengurangi sampah plastik dan menghadirkan sumber energi alternatif.

"Bahan bakar yang dihasilkan setara solar dengan kualitas yang bagus. Ini akan menjawab persoalan sampah yang selama ini kita hadapi," kata Halim.

Ia mengungkapkan Kabupaten Bantul menghasilkan sekitar 600 ton sampah setiap hari, dengan sekitar 30 persen di antaranya berupa sampah plastik.

Baca Juga: Patroli Gabungan TNI-Polri di Karawang Berbuah Hasil, Buronan Curanmor Ditangkap dan Tawuran Berhasil Dicegah

Angka tersebut menunjukkan potensi besar pemanfaatan limbah plastik menjadi bahan bakar yang bernilai.

Melalui kolaborasi antara BRIN, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, Petasol diharapkan menjadi model pengelolaan sampah terpadu yang dapat diterapkan di berbagai daerah.

Inovasi ini menjadi bukti bahwa riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan di Indonesia.***