POJOKSATU.id - Pernah merasa kehilangan semangat setelah berjam-jam scrolling media sosial?

Atau tiba-tiba sulit fokus saat harus membaca artikel panjang maupun menyelesaikan pekerjaan?

Bisa jadi Anda sedang mengalami kondisi yang kini dikenal dengan istilah brain rot.

Istilah brain rot belakangan semakin sering dibicarakan seiring meningkatnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi konten singkat dan hiburan ringan di internet.

Baca Juga: Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke 1 Persen, Tertinggi dalam 31 Tahun

Meski terdengar sepele, kondisi ini bisa berdampak pada kemampuan berpikir, konsentrasi, hingga kesehatan mental seseorang.

Brain rot merupakan kondisi ketika kemampuan berpikir menurun akibat terlalu sering mengonsumsi konten berkualitas rendah atau konten receh di internet.

Aktivitas seperti menonton video pendek tanpa henti memang dapat menjadi hiburan setelah menjalani hari yang melelahkan.

Namun, jika dilakukan secara berlebihan, dampaknya bisa lebih besar dari yang dibayangkan.

Baca Juga: Honor X80 Pro Max Meluncur 22 Juni, Bawa Baterai Raksasa 11.000 mAh dan Fast Charging 90W

Seseorang yang terlalu lama tenggelam dalam berbagai konten ringan biasanya akan merasa kurang bersemangat ketika harus kembali bekerja atau belajar.

Kemampuan untuk fokus pada tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam pun perlahan dapat menurun.

Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti membaca materi panjang, menyelesaikan pekerjaan penting, atau memecahkan masalah rumit menjadi terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya.

Istilah brain rot sendiri mulai mendapat perhatian luas setelah diperkenalkan oleh Oxford English Dictionary pada 2024 dan bahkan terpilih sebagai Oxford Word of the Year.

Baca Juga: Sistem Pendidikan Dokter Disorot, 297 Retaker UKNPDPD Dinonaktifkan, Banyak Keluhan Biaya di Uji Kompetensi Dokter

Meski belum dikategorikan sebagai kondisi medis resmi, fenomena ini tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi memicu kecemasan hingga depresi.

Tanda-Tanda Brain Rot yang Perlu Diwaspadai
Brain rot dapat dialami siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang memiliki akses bebas ke internet.

Gejalanya bisa berbeda pada setiap orang.

Namun, beberapa tanda yang paling sering muncul antara lain kecanduan media sosial, sulit tidur, mata mudah lelah, sakit kepala, serta kebiasaan menerima terlalu banyak informasi yang sebenarnya tidak penting.

Baca Juga: Namanya Dicatut, Tiga BEM di Jakarta Bantah Terlibat Konferensi Pers Aliansi Mahasiswa BEM Bersatu

Selain itu, kondisi ini juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif.

Daya ingat menurun, sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, hingga lebih rentan merasa cemas dan stres menjadi keluhan yang cukup umum dirasakan.

Jika dibiarkan dalam jangka panjang, berbagai gejala tersebut dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup sehari-hari.

Cara Mengatasi Brain Rot
Meski hingga kini belum diketahui secara pasti bagaimana konsumsi konten receh secara berlebihan dapat memengaruhi otak, berbagai langkah pencegahan dan penanganan tetap penting dilakukan.

Baca Juga: Beasiswa Pra-Doktoral 2026 Ditutup 30 Juni, Dosen Bisa Daftar di Link Resmi Ini

Salah satu metode yang bisa dicoba adalah teknik pomodoro.

Teknik ini dilakukan dengan cara fokus belajar atau bekerja selama 25 menit, kemudian beristirahat selama lima menit. Siklus tersebut dapat diulang beberapa kali sesuai kebutuhan.

Cara ini membantu melatih kembali kemampuan fokus yang mulai menurun.

Membatasi screen time juga menjadi langkah penting.

Di luar kebutuhan pekerjaan, orang dewasa disarankan membatasi penggunaan ponsel tidak lebih dari dua jam per hari.

Baca Juga: Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Jalur Mandiri Dibuka, Ini Syarat, Jadwal, dan Cara Daftarnya

Untuk anak-anak di atas usia dua tahun, durasi penggunaan layar sebaiknya tidak lebih dari satu jam per hari, sedangkan anak di bawah dua tahun tidak disarankan menggunakan ponsel.

Kurasi konten juga tidak kalah penting. Pilih informasi yang benar-benar bermanfaat dan berasal dari sumber tepercaya.

Mengurangi konsumsi konten clickbait maupun hiburan yang tidak memberikan nilai tambah dapat membantu menjaga kualitas informasi yang masuk ke otak.

Aktivitas offline juga layak diperbanyak. Berolahraga, bergabung dengan komunitas, berjalan santai di sekitar lingkungan, atau melakukan hobi lain bisa menjadi alternatif yang menyenangkan dibanding terus-menerus menatap layar ponsel.

Baca Juga: Teknik Biomedis, Jurusan yang Memadukan Dunia Kesehatan dan Teknologi Canggih, Simak Mata Kuliah hingga Prospek Kerjanya

Kebiasaan menggunakan gadget sebelum tidur juga perlu dikurangi.

Penggunaan perangkat elektronik dalam waktu lama pada malam hari dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur dan bangun.

Cara lain yang cukup efektif adalah membatasi jumlah aplikasi yang digunakan.

Semakin banyak aplikasi yang terpasang dan aktif, semakin besar pula godaan untuk terus membuka ponsel tanpa tujuan yang jelas.

Baca Juga: Jurusan Teknik Nuklir, Kuliah yang Langka di Indonesia dengan Peluang Karier di Sektor Energi dan Kesehatan

Meski bukan penyakit medis maupun gangguan mental resmi, brain rot tetap menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius.

Terlebih di era digital saat ini, ketika akses terhadap berbagai konten berlangsung tanpa batas selama 24 jam.

Di tengah derasnya arus informasi digital, menjaga kesehatan pikiran menjadi tantangan yang tak kalah penting dibanding menjaga kesehatan fisik.

Baca Juga: Bupati Aep dan Dandim Karawang Kepincut Lezatnya Sambel Bledagz Telagasari

Sesekali menjauh dari layar, menikmati aktivitas nyata, dan memberi ruang bagi otak untuk beristirahat bisa menjadi langkah sederhana yang membawa perubahan besar.

Waktu yang kita habiskan setiap hari akan menentukan kualitas hidup yang kita jalani di masa depan.***