POJOKSATU.id, PROBOLINGGO—Benturan keras bus Inds’ 88 menghantam pembatas jalan dan motor ojek online di pinggir jalan di lokasi kecelakaan menyebabkan penumpang bus sampai terlempar ke luar bus.

Bus pariwisata nopol P 7221 UG yang dikemudikan Albahri (57) mengalami rem blong sejak kawasan Jatian di Jalan Raya Sukapura, Desa Botoh, Kec Lumbang, Kab Probolinggo, Minggu (14/9) sekitar pukul 12.15 WIB.

Dalam kecelakaan maut rombongan pegawai RS Bina Sehat Jember ini menyebabkan 8 orang penumpang meninggal dunia dan 44 orang lainnya terluka.

Baca Juga: Dua Fans Terluka Akibat Kembang Api Konser SEVENTEEN di Korsel, Agensi Minta Maaf dan Beberkan Kronologis Kejadian

Sementara sopir bus Albahri (57) warga Desa Gladak Pakem, Kec Sumbersari, Probolinggo, hanya mengalami luka-luka. Begitu juga dengan kernet bus.

Albahri menceritakan detik-detik sebelum terjadinya kecelakaan. Dia sudah tahu bus mengalami rem blong sejak dari kawasan Jatian Desa Botoh.

Dia mengaku sudah mencoba memperlambat laju bus yang berisi sekitar 55 penumpang ini dengan menepi ke pinggir jalan. Namun usaha ini tidak berhasil, bus masih terus melaju.

Dia pun berusaha membunyikan klakson memberitahukan ke pengendara di depan agar menghindar. Begitu juga mobil yang di belakang dia ikut membunyikan klakson dengan kuat.

Baca Juga: Ribuan Warga Sambut Om Zein Bupati Purwakarta Saat Tabligh Akbar di Kampung Citenjo

“Sampai di Jatian itu rem sudah terasa tidak enak. Akhirnya saya ke pinggir pelan-pelan,” katanya.

“Malah sama pengendara di belakang saya itu sampai di klakson dan saya juga ikut klakson,” ujar Albahri.

Albahri lalu meminta kondekturnya, Melo, untuk berjaga-jaga.

“Sudah kerasa tidak enak, jadi saya langsung suruh Melo ke belakang dan bilang kalau rem blong,” katanya.

Saat bus melewati jalan menurun dan menikung, kondisi semakin genting.

Baca Juga: Kesaksian Sopir dan Kernet Bus Inds 88 di Kecelakaan Probolinggo, Sudah Tahu Rem Blong dari Jatian

Albahri mengaku tak bisa lagi mengendalikan bus yang dikendarainya meskipun sudah mencoba rem angin maupun rem utama.

Disebabkan itu, dia langsung membanting bus ke kanan jalan karena di depan saat itu kosong atau tidak ada kenderaan dari arah berlawanan.

“Kalau ke kiri banyak kendaraan, ada mobil dan sepeda motor,” jelasnya.

“Rem angin juga saya fungsikan tapi tidak bisa, saya juga sudah pasrah,” katanya lagi.

Sementara itu, saksi mata Suryadi mengaku mendengar suara keras sebelum kecelakaan.

“Suara pertama itu seperti ledakan biasa, dan suara kedua seperti benturan ke tembok. Setelah dicek, ternyata bus kecelakaan. Sempat saya tanyakan penumpang yang selamat, katanya mereka dari Jember,” ujarnya.

Dalam kecelakaan maut ini sebanyak delapan orang meninggal dunia yang berasal dari pegawai dan keluarga pegawai RS Bina Sehat Jember.

Direktur RS Bina Sehat, Farida, membenarkan kecelakaan bus yang dialami pegawainya. Sebanyak delapan karyawan Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember meninggal dunia.

"Mereka infonya turun dari Gunung Bromo setelah tasyakuran kelulusan S1," katanya dalam pesan singkat, seperti dikutip dari Antara, Minggu (14/9).***