POJOKSATU.ID - Badan Pusat Statistik secara transparan membeberkan proses rumit di balik penentuan desil dan peringkat kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Basis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional dibangun melalui integrasi gabungan dari berbagai sumber data utama pemerintah.

Integrasi tersebut menggabungkan data DTKS, Regsosek, hingga P3KE yang masing-masing memiliki karakteristik serta keunggulan informasi berbeda.

BPS menegaskan bahwa pembaruan data wajib dilakukan secara berkala karena kondisi sosial ekonomi warga selalu berubah dari waktu ke waktu.

Baca Juga: 4,3 Juta Penerima Baru Akhirnya Masuk Sistem, Pembenahan Data Bansos dari Desil Pemerintah Terkuak

Peristiwa dinamis seperti perpindahan domisili hingga warga yang meninggal dunia menjadi alasan utama perlunya pembaruan data yang cepat.

Dalam menentukan peringkat desil, BPS tidak hanya mengandalkan angka pendapatan langsung karena informasinya tidak selalu tersedia di seluruh rumah tangga.

BPS memanfaatkan data Susenas yang memuat informasi pengeluaran rumah tangga sebagai acuan dasar dalam membangun model estimasi.

Pemodelan canggih ini dibangun menggunakan pendekatan Proxy Means Test yang dipadukan dengan teknologi machine learning.

Baca Juga: Siap-Siap Merogoh Kocek Dalam-Dalam! Harga Pertamax Berpotensi Melonjak Tembus Rp 20.000 per Liter

Uniknya, model estimasi tersebut dibangun secara spesifik di masing-masing kabupaten dan kota di seluruh wilayah Indonesia.

Langkah ini diambil karena BPS menyadari bahwa setiap daerah memiliki karakteristik sosial dan ekonomi yang sangat beragam.

Hasil pemodelan khusus tiap daerah inilah yang kemudian disusun menjadi pemeringkatan kondisi sosial ekonomi secara nasional.

Proses pemodelan ini terus dievaluasi secara ketat demi meminimalisasi potensi kesalahan estimasi maupun kesalahan data lapangan.

Penyempurnaan metodologi statistik akan terus berjalan seiring dengan komitmen pemerintah dalam memperbarui data secara berkelanjutan.***