POJOKSATU.id, JAKARTA—Bos Danantara Dony Oskaria mengaku frustasi terkait kondisi keuangan beberapa BUMN saat ini.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara sekaligus Kepala BP BUMN ini menyebut salah satu kasus di BUMN property, dimana asetnya tinggal Rp 7 triliun, namun utangnya malah Rp24 triliun.

"Memang butuh berkesinambungan. Energi kita juga terbatas. Selesai satu, masuk satu lagi," ujar Dony saat ditemui wartawan di Batang, Jawa Tengah, Senin (3/8/2026).

Dia pun mengaku frustasi saat ini disebabkan BUMN properti yang memiliki utang Rp24 triliun, namun nilai asetnya hanya Rp 7 triliun.

Baca Juga: Restrukturisasi BUMN Harus Profesional, Jangan Sampai Danantara PHK Para Pegawai

"Baru masuk ke Pos, kondisinya begitu lagi. Baru masuk ke properti, saya juga frustrasi. Bayangkan, bagaimana tidak frustrasi? Kita lakukan repairment , aset tinggal Rp 7 triliun, sementara utangnya Rp 24 triliun. Mau diapakan," beber Doni.

Sebagai petinggi Danantara yang mengurusi penyehatan perusahaan-perusahaan pelat merah, ia mengaku terbuka dan berbicara apa adanya mengenai kerugian yang saat diderita beberapa BUMN.

"Saya orangnya apa adanya. Saya ingin masyarakat tahu bahwa kita sedang memperbaiki kondisi yang memang tidak baik-baik saja," ujar Doni lagi.

Baca Juga: Kolonel Satyo Dorong Karawang Punya Kawasan Pengolahan Sampah Terpadu, Sampah Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar

Sebagai contoh, Dony menyebut PT PP Properti Tbk yang harus melakukan perbaikan aset dalam jumlah besar sebelum perusahaan dapat dipulihkan.

"PP Properti itu impairment (penyesuaian aset) hampir Rp 13 triliun. Tidak sedikit. Satu per satu kita perbaiki," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, anak usaha Adhi Karya, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) belakangan menjadi perhatian publik menyusul belum rampungnya sejumlah proyek apartemen LRT City yang dikembangkannya.

Sebagai informasi, Empat emiten BUMN di sektor konstruksi sama-sama membukukan kinerja negatif sepanjang 2025. Kerugian kemungkinan akan berlanjut pada tahun 2026.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatatkan rugi bersih dengan nilai yang mencapai puluhan triliun rupiah.

Jika dijumlahkan, total kerugian keempat perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp 25,1 triliun.

Banyak perusahaan BUMN tersebut juga terjerat utang menggunung. ***