POJOKSATU.ID - Mimpi Indonesia untuk punya bahan bakar murah, bersih, dan buatan sendiri kini bukan lagi isapan jempol.
Inovasi bernama BOBIBOS singkatan dari Bio Based Fuel for Indonesia Sustainable Solution tengah menyita perhatian publik.
M. Ikhlas Thamrin, pemuda asal Jonggol, Bogor, yang berani menantang dominasi BBM fosil dengan klaim luar biasa RON 98, emisi rendah, tapi harga jauh di bawah Pertamax.
Harga Produksi Rp7.000 per Liter, Tantang Pertamax
Klaim yang paling mencuri perhatian publik adalah harga bahan bakar BOBIBOS hanya sekitar Rp7.000 per liter.
Baca Juga: Potongan BPJS dan Pajak TPG, Berapa Kisaran Besarnya?
Padahal, harga Pertamax di pasaran kini berkisar antara Rp13.000–Rp14.000 per liter.
Bahan bakar ini dibuat dari tanaman berlemak tinggi seperti jarak dan kemiri, dengan proses bio-konversi tanpa limbah.
Bahan-bahan itu melimpah di daerah tropis Indonesia artinya, produksi BOBIBOS bisa tersebar hingga ke desa-desa.
Uji Publik Jadi Langkah Pembuktian
BOBIBOS kini mulai diuji secara terbuka di berbagai kendaraan roda dua dan empat.
Baca Juga: Potongan BPJS dan Pajak TPG, Berapa Kisaran Besarnya?
Hasil awal menunjukkan bahwa performanya tidak kalah dengan Pertamax Turbo, bahkan lebih stabil pada suhu tinggi.
Beberapa jurnalis otomotif yang hadir di acara uji coba mengaku terkejut.
Selain performa, aspek lingkungan juga menjadi nilai jual Utama, Kadar emisi CO2 dari BOBIBOS tercatat 70% lebih rendah dibanding bensin biasa.
Ini membuat bahan bakar tersebut dinilai sangat potensial untuk mendukung transisi energi hijau nasional.
Anak Muda Indonesia Lawan Dominasi Energi Fosil
Apa yang dilakukan M. Ikhlas Thamrin dan tim kecilnya ini bisa dibilang nekat.
Di tengah dominasi perusahaan minyak besar dan harga crude oil dunia yang fluktuatif, mereka justru menciptakan bahan bakar lokal berkonsep hijau tapi terjangkau.
Namun ia sadar, jalan menuju industri tidak mudah, Masalah kami bukan teknologi, tapi izin dan dukungan politik.
Menurutnya, tanpa regulasi yang berpihak pada energi baru, harga murah BOBIBOS bisa kalah oleh monopoli BBM fosil.
Publik Tertarik, Tapi Masih Skeptis
Euforia di media sosial soal BOBIBOS cukup tinggi. Ribuan komentar di X dan Instagram memuji kreativitas anak bangsa. Namun sebagian juga skeptis.
Baca Juga: Wisata Alam Terindah di Indonesia! Ini Dia 10 Surga Dunia yang Bikin Kamu Bangga Jadi Anak Negeri
Banyak inovasi serupa sebelumnya gagal bertahan karena benturan dengan kepentingan ekonomi besar atau tersendat di tahap perizinan.
Tapi Ikhlas menegaskan, pihaknya tak ingin menyerah.
BOBIBOS Murah, Bersih, Tapi Butuh Keberanian Negara
BOBIBOS bisa jadi jawaban atas dua masalah besar Indonesia mahalnya harga BBM dan emisi karbon tinggi.
Baca Juga: Polda Banten Ringkus Komplotan Spesialis Pencuri Mobil Pikap, Sudah Beraksi Sejak 2008
Dengan bahan baku dari tanaman lokal, bahan bakar ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi petani.
Satu hektar lahan tanaman penghasil minyak bisa menghasilkan 5.000 liter bahan bakar per tahun.
Artinya, jika 10% lahan pertanian dialihkan ke bahan bakar nabati, Indonesia berpotensi menghemat miliaran dolar impor BBM.
Namun seperti diakui Ikhlas, tantangan terbesarnya adalah regulasi dan dukungan pemerintah.
Kementerian ESDM Kami Pantau, Tapi Perlu Uji Lanjutan
pejabat di Kementerian ESDM menyatakan bahwa inovasi tersebut menarik dan patut diapresiasi, namun masih perlu pengujian jangka panjang dan verifikasi teknis.
Menurutnya, jika hasilnya konsisten, BOBIBOS bisa diajukan untuk program energi alternatif nasional.
Saatnya Negara Berpihak
BOBIBOS telah membuktikan satu hal penting inovasi tak butuh modal besar, tapi butuh keberanian.
Harga lebih murah dari Pertamax, emisi rendah, dan bahan lokal adalah kombinasi ideal untuk masa depan energi Indonesia.
Namun, tanpa keberpihakan kebijakan, semua itu hanya akan jadi headline yang cepat lewat.***




