POJOKSATU.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membantah keras narasi yang menyebut pembangunan tenda pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang baru dilakukan menjelang kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto.

BNPB menegaskan, distribusi logistik dan pendirian tenda telah berlangsung jauh hari sebelum agenda kunjungan kepala negara.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan mulai dilakukan sejak akses darat Medan–Aceh Tamiang kembali dibuka pada Sabtu (6/12).

Baca Juga: Bencana Sumatera, BNPB Catat 1.003 Korban Jiwa dan Kerugian Capai Rp51 Triliun, Warganet: Belum Jadi Bencana Nasional Nih

Sejak saat itu, BNPB bersama tim gabungan langsung mengirimkan bantuan berupa tenda dan kebutuhan dasar lainnya untuk warga terdampak banjir bandang.

Menurut Abdul Muhari, sekitar 30 tenda pleton dan 1.000 tenda keluarga telah didistribusikan ke Aceh Tamiang.

Sebagian besar tenda tersebut bahkan sudah terpasang sejak Rabu (9/12) untuk memenuhi kebutuhan hunian sementara bagi ribuan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang.

Baca Juga: Kabar Baik Guru Madrasah! BSU 2025 Cair Tanpa Usulan Sekolah, Ini Cara Cek Status Penerima agar Tidak Salah Paham

Ia menegaskan bahwa proses pembangunan tenda dilakukan secara bertahap, bukan karena unsur kesengajaan atau agenda tertentu.

Hal tersebut semata-mata disebabkan oleh kebutuhan persiapan lokasi yang layak dan aman bagi pengungsi, mulai dari pembersihan lahan hingga penyesuaian kondisi medan.

“Pendirian tenda dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan pengungsi. Tidak ada kaitannya dengan kunjungan presiden,” tegas Abdul Muhari. Dikutip pojoksatu.id dari IDNTimes

Baca Juga: BSU Guru Non-ASN Madrasah 2025 Tanpa Pengajuan Sekolah, Data Ditetapkan Langsung dari Pusat! Operator Diminta Pastikan Data Tetap Valid

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang sejak 26 November 2025 tercatat berdampak pada seluruh wilayah kabupaten.

BNPB mencatat, bencana tersebut telah merenggut nyawa 58 orang dan memaksa lebih dari 209 ribu warga mengungsi ke berbagai titik pengungsian.

Kondisi di lapangan pun masih jauh dari ideal. Sejumlah penyintas terpaksa berbagi satu tenda dengan dua hingga tiga keluarga sekaligus.

Baca Juga: Resmi dari Kemenag! BSU Guru Non-ASN Madrasah 2025 Segera Disalurkan, Ini Mekanisme Penetapan dan Peran Kanwil yang Perlu Dipahami

Di tengah keterbatasan tersebut, para pengungsi sangat bergantung pada dapur umum dan bantuan logistik yang disalurkan pemerintah serta relawan.

Situasi semakin sulit karena pasokan listrik di beberapa wilayah belum sepenuhnya pulih.

Keterbatasan penerangan dan fasilitas dasar menjadi tantangan tambahan dalam proses penanganan pengungsi pascabencana.

Di tengah kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto akhirnya melakukan kunjungan kerja ke Aceh Tamiang pada Jumat (12/12).

Baca Juga: Aceh Dikepung Banjir Bandang 23 Daerah Terendam, Rusyidi Muktar Bongkar Fakta Mengejutkan: Bantuan 500 Ton Tertahan!

Dalam kunjungannya, Prabowo meninjau langsung posko pengungsian terbesar serta sejumlah wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peninjauan pascabencana untuk memastikan penanganan darurat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

BNPB menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pemerintah daerah hingga proses tanggap darurat dan pemulihan berjalan optimal.***