POJOKSATU.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali merilis potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia untuk periode 28 April hingga 4 Mei 2026.
Dalam laporan terbarunya, BMKG mencatat adanya pergeseran signifikan pola pembentukan awan hujan ekstrem tersebut.
Jika sebelumnya aktivitas awan cumulonimbus banyak terdeteksi di wilayah daratan seperti Kalimantan dan Sumatera, kini zona intensitas tinggi justru berpindah ke kawasan perairan dan pesisir.
Baca Juga: Politeknik PU Buka PMB Jalur Prestasi 2026, Pendaftaran Ditutup 2 Juni!
Zona dengan kategori Frequent (FRQ >75%) masih terlihat aktif, namun dominasi pembentukan awan kini lebih banyak terjadi di wilayah laut dan samudra.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa potensi cuaca ekstrem tetap tinggi, meski dengan pola yang berbeda dibanding beberapa hari sebelumnya.
BMKG mengidentifikasi beberapa wilayah dengan potensi pertumbuhan awan cumulonimbus kategori tinggi, di antaranya Laut Bali, Laut Banda, Maluku, Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Lampung, hingga Samudra Hindia selatan Banten.
Baca Juga: Ingin Jadi Dosen? Telkom University Buka Lowongan 2026, Ini Persyaratannya!
Dari daftar tersebut, hanya Maluku yang termasuk wilayah daratan, sementara lainnya berada di kawasan perairan luas.
Awan cumulonimbus sendiri dikenal sebagai awan badai yang sangat besar, padat, dan menjulang tinggi seperti menara.
Awan ini terbentuk dari proses konveksi kuat di atmosfer dan kerap menjadi pemicu berbagai cuaca ekstrem.
Baca Juga: Reshuffle Kabinet Prabowo, Jumhur Hidayat Dapat Amanah Jadi Menteri Lingkungan Hidup
Dampaknya cukup beragam, mulai dari hujan lebat dalam waktu singkat yang dapat memicu genangan atau banjir lokal, hingga petir dan kilat akibat pergerakan muatan listrik di dalam awan.
Tidak hanya itu, angin kencang atau storm gust juga sering menyertainya dan berpotensi merusak lingkungan sekitar.
Dalam kondisi tertentu, cumulonimbus juga dapat menghasilkan hujan es serta turbulensi udara yang berbahaya bagi penerbangan.
Bahkan pada atmosfer yang sangat labil, awan ini dapat berkembang menjadi sistem badai yang lebih kompleks.
Secara visual, awan ini mudah dikenali karena bentuknya yang tinggi menjulang, puncaknya melebar seperti landasan, serta bagian bawah yang gelap pekat.
Kondisi ini sering menjadi tanda awal datangnya hujan deras dan cuaca tidak stabil.
Dengan adanya pergeseran wilayah pembentukan awan ini, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, terutama bagi aktivitas di laut dan wilayah pesisir.***




