POJOKSATU.id - Pernyataan keras Faisal Asegaf dalam podcast Terus Terang bersama Mahfud MD memantik kembali perdebatan lama tentang peran Amerika Serikat (AS) dalam konflik Gaza.
Menurut mantan jurnalis perang yang lebih dari satu dekade malang-melintang di Timur Tengah itu.
Dunia seharusnya tidak lagi menaruh harapan pada Washington untuk menyelesaikan tragedi kemanusiaan di Palestina.
Baca Juga: Wajan Gosong Tebal? Cuma Modal Sabun Colek dan Cuka, Kinclong Lagi dalam 5 Menit
Dalam pembahasan yang berlangsung mendalam, Faisal menegaskan bahwa rekam jejak Amerika sudah terlalu jelas untuk diabaikan.
“Sangat naif kalau kita masih percaya Amerika untuk isu Palestina,” ujarnya tegas.
Faisal merujuk pada fakta bahwa sepanjang dua tahun serangan Israel ke Gaza, AS berulang kali memveto resolusi gencatan senjata di Dewan Keamanan PBB.
Baca Juga: Giro Surplus bank bjb, Solusi Cerdas Kelola Dana Usaha Lebih Produktif
“Selama perang Gaza, Amerika memveto lima kali resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera,” katanya.
Menurutnya, langkah itu membuat dunia internasional kehilangan satu-satunya mekanisme formal untuk menghentikan pembantaian.
Lebih jauh, Faisal mengkritik keberadaan Dewan Perdamaian (BOP) yang dibentuk Donald Trump.
Baca Juga: Sejarah UIN Raden Intan Lampung: Dari IAIN hingga Kampus Islam Bereputasi Global
Alih-alih menjadi ruang dialog yang adil, lembaga tersebut justru dinilai cacat sejak lahir.
“BOP ingin membuat perdamaian di Gaza, tapi Palestina tidak boleh ikut. Itu sangat tidak masuk akal,” tambahnya.
Ia menyebut struktur semacam itu justru memperkuat dominasi AS dan Israel dalam menentukan masa depan rakyat Palestina.
Mahfud MD, yang turut hadir, memberikan pandangan sejalan.
Menurutnya, Indonesia perlu berhitung ulang atas posisinya dalam BOP karena tidak sejalan dengan sikap bebas aktif dan prinsip pembelaan terhadap bangsa tertindas yang selama ini dipegang Indonesia.
Kritik Faisal mencerminkan kekecewaan banyak pihak yang melihat keterlibatan AS bukan sebagai penengah, melainkan sebagai aktor yang memperpanjang konflik.
Baca Juga: Wajan Gosong Tebal? Cuma Modal Sabun Colek dan Cuka, Kinclong Lagi dalam 5 Menit
Dengan veto yang terus dijatuhkan dan dukungan militer yang tetap mengalir, harapan pada mediasi Amerika dinilai semakin jauh dari realistis.***




