POJOKSATU.id, JAKARTA—Biaya pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) sebesar Rp 45 juta per orang selama 45 hari.

Kegiatan Latsarmil memakan biaya Rp30 juta, sementara materi subtansi koperasi hanya Rp15 juta.

Di tengah kritik publik, Kementerian Pertahanan (Kemhan) lalu membuat putusan mengurangi kegiatan teknis dan taktis militer akan dikurangi.

Kabiro Informasi Pertahanan Kemenhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Senin (29/6/2026) memastikan sudah tidak ada lagi materi menembak dalam pelatihan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) KDKMP/KKMP dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Baca Juga: Mengejutkan, Biaya Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih Capai Rp 30 Juta per Orang

“Kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini,” ujar Brigjen Rico Ricardo.

Keputusan tersebut menjadi salah satu hasil evaluasi pelatihan dasar militer (latsarmil) usai lima calon manajer Kopdes Merah Putih dan KNMP meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Selain menghapus materi menembak, Kemenhan juga mengurangi intensitas latihan fisik dan menyesuaikannya dengan latar belakang peserta yang merupakan warga sipil.

Menurutnya, fokus kegiatan akan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi.

Baca Juga: Pembekalan Calon Manajer Kopdes, Biaya Latsarmil Rp30 Juta, Subtansi Koperasi Cuma Rp15 Juta

Dalam keputusan ini juga, Kemenhan mengubah istilah dari Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.

Diketahui, lima peserta telah meninggal dunia hingga Sabtu (27/6/2026). Antara lain Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.

Kemhan kini menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memperketat pengawasan kesehatan peserta latihan.

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, dalam keterangan tertulis, Senin (29/6) mengatakan, berdasarkan skema pelatihan selama 45 hari, biaya pelatihan Latsarmil Rp30 juta, selama biaya pembelajaran substansi koperasi hanya Rp 15 juta.

Maka dari itu, TB Hasanuddin menegaskan bahwa, akan jauh lebih efisien apabila komponen latihan militer dihapus, dan difokuskan sepenuhnya pada peningkatan kompetensi manajerial.

Menurut TB Hasanuddin, berdasarkan kriteria pelatihan untuk tujuh hari itu menghabiskan Rp 5 juta per peserta, maka total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp 45 juta per orang.

“Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp 15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi," ujar Hasanuddin.

"Artinya, apabila latihan militer dihilangkan, negara dapat menghemat sekitar Rp 30 juta atau sekitar dua pertiga dari total biaya pelatihan setiap peserta," sambungnya lagi.***