POJOKSATU.id – Bank Indonesia akhirnya buka suara soal gejolak rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir merosot hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui bahwa bukan hanya faktor global yang menekan rupiah, tetapi juga riuh pencalonan Deputi Gubernur BI yang memicu sentimen negatif pasar.

Dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026), Perry menyebut bahwa pasar merespons cepat dinamika politik di internal bank sentral.

Baca Juga: Sejarah STIE Ekuitas, Bertransformasi Menuju Universitas Unggul Berkelas Global 2045

“(Faktor domestik pelemahan rupiah) karena persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur,” kata Perry dikutip pojoksatu.id dari detikfinance 

Pengakuan ini menjadi titik penting di tengah spekulasi pasar yang sejak awal menghubungkan gejolak rupiah dengan proses pengisian kursi strategis di BI.

Perubahan di level pimpinan dianggap investor sebagai indikator arah kebijakan moneter ke depan.

Baca Juga: INFO LOKER: Lowongan Kerja Guru di YPI Al Azhar Bandar Lampung !

Sentimen inilah yang, menurut analis, membuat rupiah makin rentan terhadap tekanan eksternal.

Perry menambahkan bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Ada faktor global yang memperberat situasi, terutama derasnya arus modal keluar dari negara berkembang.

“Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika,”.

Baca Juga: Bukan Prank! Farida Nurhan Serius Tinggalkan YouTube setelah 10 Tahun Berkarir sebagai YouTuber, Sebut TikTok dan Facebook Lebih Menghasilkan

Ujarnya dikutip pojoksatu.id dari tempo.co 21/1/2026

Di tengah tekanan tersebut, BI memastikan stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama. Berbagai langkah intervensi pasar valas dipertebal untuk mencegah volatilitas berlebihan.

Perry menegaskan BI akan menjaga agar rupiah kembali menemukan level fundamentalnya.

"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental kita yang baik,"

"termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah dan prospek ekonomi yang membaik," imbuhnya.

Baca Juga: Soal Keluhan Jadwal Dokter, RS Izza Karawang Jemput Bola Temui Pasien

Pasar kini menanti langkah lanjutan BI, terutama setelah pengakuan terbuka ini semakin menegaskan bahwa dinamika di internal bank sentral memainkan peran penting dalam memengaruhi sentimen investor.

Sejauh ini, tekanan rupiah belum sepenuhnya mereda, namun BI memastikan seluruh instrumen stabilisasi tetap digerakkan secara agresif dan terukur.***