POJOKSATU.id, JAKARTA — Politisi Demokrat Benny K Harman meminta Mahfud MD jangan bertele-tele dalam mengungkap aliran janggal Rp349 triliun di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Anggota Komisi III DPR RI ini tidak ingin Menko Polhukam bertele-tele dalam mengungkap aliran di Kemenkeu termasuk soal TPPU melalui emas batangan ditaksir senilai Rp189 triliun.
Termasuk Mahfud MD diminta secara tegas menunjuk hidung pelaku pencucian uang melalui emas batangan yang jumlahnya mencapai Rp189 triliun.
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Demokrat, Benny K Harman lewat tulisannya di akun Twitter @BennyHarmanID pada Sabtu malam (1/4) merespon sebuah pemberitaan terkait isu emas batangan Rp 189 triliun.
Baca Juga :
Benny K Harman : Pencucian Uang Rp349 Triliun Kemenkeu Kejahatan Terbesar Abad Ini
Pemberitaan itu menyebutkan bahwa penyelundupan emas batangan senilai Rp 189 triliun di Kemenkeu sudah termasuk dalam dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) sebesar Rp 349 triliun yang diungkapkan oleh Mahfud MD selaku Ketua Komite Nasional TPPU.
"Kita minta Pak Mahfud dalam rapat lanjutan di Komisi 3 DPR nanti untuk tunjuk hidung, siapa pelakunya, dan uangnya mengalir ke mana saja. Agar jelas semuanya dan menjadi terang benderang masalahnya," kata Benny seperti dikutip, Minggu (2/4).
Dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI terkait transaksi janggal Rp349 triliun di Kemenkeu yang digelar di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta pada Rabu (29/3.
Mahfud MD memang sempat mengungkapkan ada dugaan TPPU sebesar Rp 189 triliun yang ditutupi oleh anak buah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terkait dugaan penjualan emas batangan impor.
Mahfud menjelaskan, temuan Rp 189 triliun itu merupakan dugaan pencucian uang cukai dengan 15 entitas terkait impor emas batangan.
Surat cukai itu kata Mahfud, diduga dimanipulasi dengan keterangan "emas mentah", padahal sudah terbentuk emas batangan.
"Impor emas batangan yang mahal itu. Tapi di surat cukainya itu emas mentah. Bagaimana kamu kan emasnya sudah jadi, kok bilang emas mentah? 'Enggak, ini emas mentah tapi dicetak di Surabaya', dicari ke Surabaya dan enggak ada. Itu menyangkut uang miliaran tapi enggak diperiksa," kata Mahfud MD. (ikror/pojoksatu)




