POJOKSATU.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana tersebut telah menembus angka 1.000 jiwa.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera meninggalkan luka mendalam bagi Indonesia.
Data terbaru resmi BNPB Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 menunjukkan sebanyak 1.003 warga meninggal dunia hingga Sabtu 13 Desember 2025 sore.
Angka ini menjadikan bencana Sumatera sebagai salah satu tragedi alam paling mematikan dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga: Awas Terlambat! BKPSDMAD Sambas Minta Calon PPPK Paruh Waktu Segera Urus SKCK dan SKD
Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat sebanyak 218 orang masih dinyatakan hilang dan 5.400 warga mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan beragam.
Proses pencarian korban hilang masih berlangsung di tengah keterbatasan akses, cuaca ekstrem, dan kerusakan infrastruktur yang masif.
Kabupaten Agam di Provinsi Aceh tercatat sebagai wilayah dengan korban meninggal terbanyak, mencapai 184 jiwa.
Banyak korban diduga tertimbun longsor dan terseret banjir bandang yang datang secara tiba-tiba saat hujan ekstrem mengguyur wilayah tersebut selama berhari-hari.
Baca Juga: Rencana Menikah Terekspos, Tiffany Young dan Byun Yo Han Kompak Tulis Surat untuk Penggemar
Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan masyarakat setempat terus melakukan evakuasi, meski dihadapkan pada kondisi medan yang sulit dan rawan longsor susulan.
Bencana ini juga meninggalkan dampak kerusakan besar pada fasilitas publik. BNPB mencatat sedikitnya 1.200 fasilitas umum mengalami kerusakan.
Dari jumlah tersebut, 581 fasilitas pendidikan rusak, 434 rumah ibadah terdampak, 219 fasilitas kesehatan tidak dapat difungsikan, 290 gedung perkantoran rusak.
Kerusakan ini memperparah kondisi warga terdampak yang kini bergantung penuh pada bantuan darurat.
Presiden Prabowo Subianto telah melakukan kunjungan langsung ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Aceh Tamiang, Takengon, dan Bener Meriah.
Dalam kunjungannya, Presiden menyampaikan empati mendalam sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat apabila penanganan bencana belum sepenuhnya maksimal.
"tantangan di lapangan sangat besar dan membutuhkan kerja kolektif lintas sektor" ujarnya, dikutip dari Kompas, 13 Desember 2025.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah pusat akan terus mengawal proses pemulihan pascabencana, mulai dari penanganan pengungsi, pemulihan infrastruktur.
Baca Juga: Roy Suryo Jadi Tersangka, Polda Metro Akhirnya Buka Gelar Perkara Ijazah Palsu Jokowi
Hingga memastikan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan segera kembali berjalan.
Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak korban bencana agar dapat segera kembali bersekolah dan mendapatkan pendampingan psikososial.
Di tengah duka yang belum usai, tragedi ini menjadi pengingat keras akan kerentanan Indonesia terhadap bencana alam.
Baca Juga: WAJIB TAHU! Gaji PPPK Paruh Waktu R1-R5 Baru Bisa Cair Setelah Dokumen Ini Terbit
Publik kini menanti langkah konkret pemerintah, bukan hanya dalam penanganan darurat.
Tetapi juga mitigasi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang dengan korban yang semakin besar.
Itulah update informasi terkait perkembangan jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana Sumatera yang tembus 1000 korban jiwa.***




