POJOKSATU.ID - Situasi memilukan terjadi di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertugas di lapangan mengaku tak kuasa melihat kondisi banyaknya jenazah yang belum tertangani.
Keterbatasan tenaga, sulitnya akses menuju lokasi, dan terputusnya jaringan komunikasi membuat proses evakuasi berjalan sangat lambat.
Baca Juga: Bikin Pensiunan Deg-degan! Kabar Rapel 6 Bulan Mencuat, Tapi Taspen Bilang Begini
Petugas BPBD menyampaikan bahwa upaya mereka terkadang berhenti bukan karena kurangnya niat, melainkan karena medan yang benar-benar tidak memungkinkan.
Sebagian lokasi hanya bisa diakses melalui jalur darat yang tertimbun material longsor, sementara beberapa titik lainnya sepenuhnya terisolasi akibat infrastruktur runtuh.
Kondisi ini membuat banyak jenazah tidak segera dievakuasi dan dirawat sebagaimana mestinya.
Baca Juga: GMBI Banjar Sambut Pengukuhan Dudung Abdurachman sebagai Ketua Dewan Pembina
“Kami berusaha semaksimal mungkin. Namun kondisi di lapangan sangat berat, banyak daerah terputus dan minim dukungan peralatan,” ujar salah satu petugas BPBD Aceh. dikutip pojoksatu.id dari @officialinewstv
Berdasarkan laporan terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui siaran pers pada Minggu (30/11/2025), tercatat setidaknya 96 jiwa meninggal dunia dan 75 orang dinyatakan hilang di Provinsi Aceh.
Data sementara tersebut dihimpun dari berbagai daerah terdampak, mulai dari Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, hingga Aceh Timur dan Lhokseumawe.
Tak hanya itu, daerah lainnya seperti Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya juga melaporkan situasi serupa.
Banyak warga masih berada di titik-titik aman dan belum bisa kembali ke rumah mereka karena ancaman bencana susulan masih tinggi.
Hingga kini, jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 62.000 kepala keluarga yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Baca Juga: Sampaikan Duka Mendalam, Negara Iran Siap Kirim Bantuan Kemanusiaan bagi Bencana Sumatera
Di beberapa lokasi, tim evakuasi masih harus menembus jalur yang tertutup lumpur, pepohonan tumbang, hingga jalan-jalan yang amblas akibat banjir bandang dan gempa susulan.
Ketiadaan alat berat memperlambat proses pencarian korban, sementara kondisi cuaca menjadi tantangan tambahan bagi tim penyelamat.
Petugas di lapangan menyebutkan bahwa koordinasi bantuan terus dilakukan, namun keterbatasan sinyal membuat proses komunikasi terputus-putus.
Baca Juga: PPPK Senyum Lebar! Single Salary 2026 Bisa Samakan Gaji dengan PNS Berdasarkan Grade
Hal ini berdampak pada lambatnya pendataan, distribusi logistik, hingga penanganan jenazah yang seharusnya dapat dilakukan segera untuk menjaga aspek kemanusiaan bagi para korban.
Selain menangani jenazah, tim BPBD dan relawan harus membagi fokus dengan kebutuhan pengungsi yang membludak.
Banyak warga membutuhkan makanan, obat-obatan, selimut, dan tempat tinggal sementara.
Dengan jumlah pengungsi yang besar, distribusi logistik harus dilakukan secara hati-hati agar bantuan tersalurkan merata.
Hingga kini, petugas terus bekerja tanpa henti, berharap kondisi akses dapat segera dipulihkan agar evakuasi bisa dipercepat.
Baca Juga: Naik Drastis! Tunjangan Guru Honorer Jadi Rp400 Ribu, Tahun Depan Bisa Tembus Rp500 Ribu?
Pemerintah pusat bersama BNPB disebut telah mengirimkan bantuan tambahan, termasuk tim SAR gabungan, peralatan pencarian, serta dukungan medis.
Masyarakat Aceh masih berada dalam suasana duka mendalam.
Harapan terbesar mereka adalah agar seluruh korban dapat ditemukan dan penanganan dapat berlangsung lebih cepat meski tantangan di lapangan begitu besar.***




