POJOKSATU.id - Banyak kaum muslimin di Indonesia memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur'an, yaitu membaca seluruh isi Al-Qur'an hingga selesai.

Tradisi ini paling sering dilakukan pada bulan Ramadhan. Di bulan yang penuh berkah itu, umat Islam biasanya memperbanyak ibadah, termasuk membaca Al-Qur'an sampai tuntas.

Setelah khatam, biasanya ada doa yang sering dibaca dan cukup populer di tengah masyarakat. Doa tersebut bahkan sering disebut sebagai "senandung Al-Qur'an".

Berikut bacaan doa yang sering dibaca setelah khatam Al-Qur'an:

اللهم ارحمني بالقرآن, واجعله لي إماماً, ونوراً, وهدى ورحمةً, اللهم ذَكِّرْني منه ما نسيت, وعلّمني منه ما جهلت, وارزقني تلاوته آناء الليل, واجعله لي حجة يا رب العالمين

“Allhummarhamni bilqur’an. Waj‘alhu li imaman wa nuran wa hudan wa rohmah. Allhumma dzakkirni minhu ma nasitu wa ‘allimni minhu ma jahiltu warzuqni tilawatahu aana-allaili waj‘alhu li hujatan ya rabbal ‘alamin.”

Artinya:
“Ya Allah sayangilah aku dengan sebab Al-Qur’an dan jadikanlah Al-Qur’an untukku sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah aku akan ayat-ayat Al-Qur’an yang aku lupa, ajarilah aku tentang isi Al-Qur’an yang tidak aku ketahui, berilah aku nikmat untuk membacanya pada waktu malam, dan jadikanlah Al-Qur’an sebagai pembelaku, wahai Tuhan semesta alam.”

Namun muncul pertanyaan penting. Apakah doa tersebut memang memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam? Apakah ada doa khusus yang diajarkan setelah seseorang mengkhatamkan Al-Qur'an?

Tidak Ada Doa Khusus dari Nabi
Para ulama menjelaskan bahwa dalam ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada doa khusus yang secara spesifik diajarkan setelah seseorang mengkhatamkan Al-Qur'an.

Para sahabat Nabi juga tidak meriwayatkan adanya doa tertentu yang harus dibaca setelah selesai membaca Al-Qur'an.

Bahkan para imam besar dalam Islam pun tidak mengajarkan doa khusus tersebut.

Karena itu, anggapan bahwa terdapat doa khusus yang harus dibaca setelah khatam Al-Qur'an sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ada pula anggapan bahwa doa yang tercantum di bagian akhir mushaf Al-Qur'an berasal dari ulama besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Namun penjelasan para ulama menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak benar.

Doa Khatam Al-Qur'an dalam Shalat dan di Luar Shalat
Para ulama kemudian menjelaskan bahwa doa khatam Al-Qur'an bisa dibagi dalam dua kondisi.

Pertama, doa yang dibaca ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalat.

Kedua, doa yang dibaca setelah seseorang mengkhatamkan Al-Qur'an di luar shalat.

Untuk kondisi pertama, yaitu membaca doa khatam Al-Qur'an dalam shalat, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada riwayat yang sahih yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan untuk kondisi kedua, yaitu doa setelah khatam Al-Qur'an di luar shalat, terdapat riwayat yang berasal dari sahabat Nabi, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin
Ulama besar Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum membaca doa khatam Al-Qur'an ketika shalat malam di bulan Ramadhan.

Beliau menjawab bahwa dirinya tidak mengetahui adanya tuntunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai doa khatam Al-Qur'an ketika shalat malam.

Beliau juga menjelaskan bahwa tidak ditemukan riwayat dari para sahabat yang melakukan hal tersebut.

Yang ada hanyalah riwayat dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa ketika Anas bin Malik selesai mengkhatamkan Al-Qur'an, beliau mengumpulkan keluarganya lalu mendoakan kebaikan untuk mereka.

Perlu dipahami bahwa hal itu dilakukan setelah khatam Al-Qur'an di luar shalat, bukan ketika sedang melaksanakan shalat.

Status Hadis “Senandung Al-Qur'an”
Pembahasan tentang doa khatam Al-Qur'an juga pernah diteliti secara khusus oleh ulama bernama Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

Beliau menulis risalah berjudul Juz-u fii Marwiyaat Du’a Khatmi al Qur’an, wa Hukmuha Dakhilus Sholah wa Khorijuha, yang membahas berbagai riwayat mengenai doa khatam Al-Qur'an.

Dalam kajian tersebut, beliau juga menyinggung doa “Allahummarhamni bil Qur’an” yang populer disebut sebagai senandung Al-Qur'an.

Menurut penjelasan para ulama, hadis yang memuat doa tersebut termasuk kategori hadis mu’dhol.

Hadis mu’dhol adalah hadis yang sanadnya terputus karena ada dua perawi yang hilang secara berturut-turut dalam rangkaian sanadnya.

Akibatnya, hadis seperti ini termasuk hadis yang lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dasar kuat dalam penetapan amalan.

Hadis tersebut disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Namun ketika para ulama meneliti sanadnya, mereka menemukan bahwa hadis tersebut tidak memiliki sanad yang kuat.

Beberapa ulama hadis seperti Al-Hafizh Al-Iraqi menjelaskan bahwa sanad hadis tersebut bersumber dari Abu Dzar Al-Harawi dari Dawud bin Qois secara mu’dhol.

Artinya, dalam rantai periwayatan hadis tersebut terdapat dua perawi yang hilang secara berturut-turut.

Karena itu, para ulama menilai hadis tersebut tidak kuat untuk dijadikan landasan amalan khusus.

Tiga Macam Riwayat Tentang Doa Setelah Khatam Al-Qur'an
Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan bahwa riwayat mengenai doa setelah khatam Al-Qur'an secara umum terbagi menjadi tiga jenis.

Pertama, riwayat yang menyebutkan bahwa saat khatam Al-Qur'an merupakan waktu mustajab untuk berdoa.

Riwayat semacam ini dinukil dari beberapa sahabat seperti Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Jabir, Al-Irbadh bin Sariyah, serta perkataan Ibnu Mas’ud dan Mujahid.

Namun setelah diteliti, para ulama menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang secara tegas menyebutkan bahwa doa saat khatam Al-Qur'an pasti mustajab.

Beberapa riwayat bahkan dinilai sangat lemah atau bahkan palsu.

Yang dianggap paling kuat hanyalah perkataan dari Mujahid, seorang tabi’in, bukan sabda Nabi.

Kedua, riwayat yang menyebutkan adanya doa khusus setelah khatam Al-Qur'an.

Riwayat ini berasal dari sejumlah jalur seperti Abu Umamah, Abu Hurairah, Ali bin Abi Thalib, hingga Dawud bin Qois.

Namun para ulama hadis menjelaskan bahwa semua riwayat tersebut memiliki kelemahan.

Ada yang dinilai hadis palsu karena terdapat perawi pendusta, ada yang sanadnya tidak jelas, ada pula yang terputus.

Karena itu para ulama menyimpulkan bahwa tidak ada hadis sahih yang menetapkan adanya doa khusus setelah khatam Al-Qur'an.

Ketiga, riwayat yang menyebutkan kebiasaan mengumpulkan keluarga setelah khatam Al-Qur'an lalu berdoa bersama.

Riwayat ini berasal dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika Anas selesai mengkhatamkan Al-Qur'an, beliau mengumpulkan anak-anak dan keluarganya lalu mendoakan kebaikan untuk mereka.

Riwayat ini dinilai sebagai perbuatan sahabat, bukan sabda Nabi.

Meski demikian, para ulama memandangnya sebagai amalan yang baik karena berisi doa dan kebaikan bagi keluarga. ***