POJOKSATU.id – Dalam pusaran sorotan publik terhadap upaya reformasi institusi kepolisian.
Hadir sosok Mahfud MD sebagai figur yang tak hanya pernah menegur.
Tetapi kini bersiap masuk ke dalam tim reformasi yang bisa mengubah wajah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Melalui rekam jejaknya dalam banyak persoalan besar, Mahfud membawa harapan sekaligus tantangan baru dari korupsi hingga agraria, kini ke reformasi institusi yang penuh liku.
Baca Juga: Beban Harapan di Pundak Mahfud MD, Dari Kasus ASABRI, Tanah Adat, hingga Urus Polisi Bersih
Dari persoalan besar ke panggilan reformasi
Mahfud dikenal luas sebagai mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) yang vokal terhadap persoalan sistemik
Mulai dari korupsi di lembaga keuangan negara hingga konflik agraria dan pelanggaran HAM masa lalu.
Kini, pemerintah lewat Presiden Prabowo Subianto memintanya untuk bergabung dalam.
Baca Juga: ASN Kini Wajib Melek Coretax, Kantor Pajak Edukasi Transparansi Fiskal Digital
tim reformasi Polri sebuah sinyal bahwa agenda perubahan di tubuh Polri mendapatkan penguatan dari luar institusi.
Dalam kuliah umum di Universitas Andalas, pada 26 September 2025, Mahfud menguraikan tiga pilar pokok reformasi kepolisian.
Yaitu struktural (lembaga), instrumental (aturan), dan kultur (nilai, perilaku).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Mahfud memahami bahwa reformasi bukan sekadar mengganti pucuk pimpinan.
Atau melakukan sedikit perubahan melainkan perubahan mendasar dari dalam.
Kenapa Mahfud diundang ke “ruang reformasi” Polri?
Baca Juga: Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Menguak Celah Pengawasan dan Rantai Pasokan Bahan Berbahaya
Undangan ini menjawab dua kebutuhan sekaligus kompetensi dan legitimasi publik.
Kompetensi Mahfud memiliki pengalaman panjang dalam koordinasi kebijakan hukum dan keamanan serta penegakan integritas lembaga.
Legitimasi publik Polri dalam beberapa tahun terakhir terus menghadapi tantangan kepercayaan masyarakat.
Baca Juga: Menjelang Natal dan Tahun Baru, Guru Berharap TPG TW 4 Cair Tepat Waktu, Begini Progresnya!
Dengan kehadiran figur eksternal seperti Mahfud, terdapat sinyal kuat untuk “budaya baru”.
Dalam prosesnya, Sekretaris Kabinet menyebut Mahfud sebagai salah satu tokoh yang bersedia bergabung dalam Komite/TIm Reformasi Polri.
Namun, hingga akhir Oktober 2025, Mahfud mengaku belum mendapat kabar lanjutan terkait tim tersebut.
Baca Juga: Jabar Lindungi 1 Juta Pekerja Informal Lewat BPJS Ketenagakerjaan
Hal ini menandakan bahwa proses politik dan institusional di balik pembentukan tim reformasi masih berlangsung dan tidak sederhana.
Tantangan yang Menanti Mahfud
Masuk dalam tim reformasi Polri bukanlah tugas mudah. Angkatan pertama yang harus dihadapi adalah kultur internalkorps.
Mahfud sendiri menegaskan bahwa budaya seperti nepotisme dalam kenaikan jabatan, mutasi yang tak transparan, dan intervensi politik masih mengikat korps.
Reformasi struktural dan instrumental bisa dilakukan perlahan, namun kultur adalah yang paling sulit karena menyentuh nilai-nilai, kebiasaan, dan relasi sosial dalam institusi.
Lebih jauh, Mahfud harus berjalan di “jalan dua sisi” menjaga kepercayaan publik yang selama ini memandang Polri skeptis.
Baca Juga: Cek Sekarang! Begini Cara Lihat Status TPG TW 4 2025 Langsung dari Info GTK Tanpa Ribet!
Sekaligus membangun dukungan di dalam untuk perubahan. Jika terlalu cepat atau terlalu politis, risiko resistensi internal dan kegagalan reformasi menjadi nyata.
Mahfud MD telah melalui berbagai medan persoalan besar korupsi, agraria, HAM dan kini dipanggil menjalani misi yang berbeda.
Mereformasi institusi yang selama ini menjadi sorotan.
Baca Juga: Jabar Lindungi 1 Juta Pekerja Informal Lewat BPJS Ketenagakerjaan
Undangan bergabung ke tim reformasi Polri menunjukkan bahwa pemerintah menyadari perubahan bukan hanya di level kepemimpinan Polri.
Tetapi melibatkan aktor eksternal dengan kredibilitas.
Namun, jalan ke depan penuh tantangan kultur internal yang tertanam lama, ekspektasi publik yang tinggi, dan proses politik yang kompleks.***




