POJOKSATU.ID - Kisah selamatnya bayi Fathan, yang baru berusia dua bulan empat hari, dari terjangan galodo di Kecamatan Palembayan, Agam.
Menjadi potret memilukan sekaligus tamparan keras bagi pemerintah.
Di tengah bencana yang menewaskan keluarganya, Fathan justru ditemukan bukan oleh petugas.
Melainkan oleh warga yang menyisir lokasi tanpa perlengkapan memadai.
Pada Kamis, 27 November 2025, galodo menghancurkan perkampungan hingga rata dengan tanah.
Saat malam tiba, warga dipaksa menghentikan pencarian karena gelap dan minim penerangan.
Tidak ada bantuan menyeluruh, tidak ada tim lengkap yang mendampingi.
Esok paginya, barulah Maulana Rafi (30) bersama warga kembali melakukan pencarian manual.
Baca Juga: Tanggul Jebol di Mustika Tigaraksa, Bupati Tangerang Turun Tangan Perintahkan Penanganan Darurat
Dari situlah keajaiban pahit itu terjadi. Maulana melihat tangan kecil menyembul dari lumpur.
“Adik saya bilang, ‘Bang, ada bayi’,” ujar Maulana, dikutip dari Detik, 6 Desember 2025.
Ketika didekati, tubuh bayi itu separuh terkubur lumpur, kaku, diam, tak menangis.
Tanda jelas bahwa Fathan terseret arus dahsyat semalaman tanpa pertolongan.
Warga kemudian memandikan, membersihkan, dan menghangatkan bayi itu seadanya sebelum mengantarnya ke posko darurat.
Bahkan untuk kebutuhan dasar seperti susu, Fathan harus bergantung pada ibu-ibu penyintas yang juga kehilangan rumah.
Di titik inilah kegagalan penanganan bencana tampak nyata: warga menjadi penyelamat utama, sementara respons pemerintah masih tertatih.
Tragedi Fathan semakin menyayat ketika diketahui ia adalah satu-satunya yang selamat dari tujuh anggota keluarga.
Baca Juga: Bupati Tangerang Buka Kejuaraan Panahan Bupati Cup 2025, Ratusan Atlet Ramaikan Arena
Ayah dan ibunya meninggal, sementara kakek, nenek, dan dua anggota keluarga lain hilang terseret arus.
Selama dua hari setelah bencana, para penyintas, termasuk Fathan.
Bertahan di posko seadanya sebelum akhirnya mendapat sentuhan bantuan pada Sabtu 29 November.
Dua hari setelah bencana besar menghancurkan daerah itu.
Baca Juga: Bupati Tangerang Dorong Kepala Sekolah Jadi Teladan dan Inspirasi Bagi Siswa
Kini Fathan tinggal bersama adik dari kakek dan neneknya.
Kondisinya sempat mengkhawatirkan hingga Tim Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Polda Riau turun tangan memeriksa kesehatannya.
Dokter I Nyoman Tri menemukan beberapa luka dan masalah pencernaan, namun memastikan kondisinya stabil.
“Kalau habis dikasih susu, harus ditegakkan dulu untuk bersendawa,” ujar Nyoman.
Sebuah arahan dasar yang ironisnya baru didapat setelah beberapa hari bayi itu berpindah dari lumpur ke pangkuan keluarga.
Tim medis pun memberikan susu formula dan kebutuhan dasar lain. Namun bantuan moral itu tak mampu menutupi kenyataan pahit.
Bayi ini selamat bukan karena sistem bekerja, tetapi karena keberuntungan dan aksi cepat warga.
Baca Juga: Pemkab Tangerang Salurkan CSR ke 214 KDKMP dan Luncurkan Aplikasi Mobile Perkuat Ekonomi Desa
Kisah Fathan adalah simbol telanjang dari carut-marutnya mitigasi bencana di daerah rawan.
Peralatan minim, pencarian terlambat, dan penyintas dibiarkan bertahan dengan sumber daya seadanya.
Galodo mungkin bencana alam, tetapi keterlambatan respons adalah bencana buatan manusia.***




