POJOKSATU.id- Puluhan warga Perumahan Jayasampurna, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi.
Menggelar aksi demo di kantor PDAM Tirta Bhagasasi setelah pembayaran pemasangan jaringan air bersih senilai sekitar Rp2 miliar tak kunjung berbuah instalasi nyata.
Aksi berlangsung panas dan disertai teatrikal protes, menandai puncak kekesalan warga atas pelayanan yang dinilai jauh dari janji.
Aksi demonstrasi tersebut pertama kali terungkap melalui laporan iNews Bekasi.
Serta berbagai unggahan video di media sosial yang memperlihatkan massa membawa spanduk bertuliskan tuntutan.
Warga menilai PDAM Tirta Bhagasasi gagal memenuhi komitmen pemasangan sambungan air bersih ke ribuan rumah di area Jayasampurna.
Baca Juga: Beban Mengajar Jadi Sorotan di TPG Bulanan 2026! Validasi Diprediksi Lebih Ketat, Data Tak Bisa Asal
Meski biaya kolektif bernilai miliaran rupiah telah dibayarkan sejak berbulan-bulan lalu.
Sejumlah warga turut menyampaikan bahwa pembayaran sebesar ± Rp2 miliar dilakukan secara bertahap oleh perumahan melalui mekanisme iuran.
Dana itu dikumpulkan untuk membiayai pemasangan jaringan utama serta sambungan rumah sesuai kesepakatan awal.
Namun hingga aksi demo berlangsung, tidak ada pipa terpasang dan tidak ada satu pun rumah yang menerima aliran air PDAM.
Protes pun tak terhindarkan. Dalam video yang beredar luas di Instagram.
Warga terlihat berkumpul di halaman kantor PDAM Tirta Bhagasasi sambil membawa poster bertuliskan “Bayar Rp2 Miliar, Air Belum Terpasang” dan “Kami Butuh Kepastian”.
Beberapa warga juga melakukan aksi teatrikal sebagai bentuk sindiran terhadap buruknya pelayanan yang mereka terima.
Aksi ini menambah panjang daftar persoalan pelayanan air bersih di wilayah Bekasi.
Sebelumnya, media lokal juga menyoroti kasus lain terkait kualitas air keruh yang mengalir ke pengguna PDAM di wilayah berbeda.
Di internal perusahaan, PDAM Tirta Bhagasasi bahkan pernah terseret isu hukum ketika salah satu direkturnya ditahan polisi dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana.
Meski kasus itu berbeda dengan persoalan Jayasampurna, rentetan isu tersebut memperkuat persepsi publik mengenai masalah manajemen dan transparansi di tubuh BUMD air minum tersebut.
Dalam aksi kali ini, warga menuntut tiga hal utama pemasangan jaringan air bersih secara segera.
Penjelasan resmi mengenai penggunaan dana miliaran rupiah yang telah dibayarkan, serta transparansi progres proyek yang sejauh ini dinilai minim.
Warga menegaskan bahwa air bersih adalah kebutuhan dasar dan keterlambatan instalasi sudah sangat merugikan aktivitas rumah tangga mereka.
Hingga berita ini disusun, PDAM Tirta Bhagasasi belum mengeluarkan pernyataan lengkap mengenai penyebab keterlambatan.
Para warga berharap perusahaan dapat segera memberikan jawaban resmi agar situasi tidak semakin memanas.
Aksi protes di Bekasi ini menjadi gambaran nyata betapa rentannya layanan utilitas publik ketika pengawasan, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi tidak berjalan optimal.
Warga yang telah membayar mahal menuntut hak mereka atas layanan air bersih hak yang seharusnya diberikan tanpa drama.
Tanpa penundaan berkepanjangan, dan tanpa harus turun ke jalan.
Kasus Jayasampurna kini menjadi perhatian publik. Warga bersiap melakukan aksi lanjutan apabila PDAM tidak segera memberikan kepastian pemasangan jaringan air.
Mereka menegaskan bahwa uang miliaran rupiah bukan angka kecil, dan tanggung jawab pelayanan harus dijalankan secara profesional.***




