POJOKSATU.ID - Industri mobil listrik yang selama ini dikuasai raksasa global seperti Tesla, BYD, Panasonic, hingga CATL mendadak mendapat “tantangan” dari tanah air.

Pendiri Bobibos, produk biofuel berbasis jerami yang pernah viral kini kembali mencuri perhatian publik.

Setelah mengumumkan pengembangan teknologi baterai mobil listrik yang diklaim tidak memerlukan pengisian daya (charge) dari luar.

Teknologi yang diberi nama Serum Battery itu menjadi bahan pembicaraan besar di media lokal dan media sosial.

Baca Juga: VIral! Penemuan PETI Diduga Sudah Lama Dipelihara? Polisi Sisir Kuansing, Rakit Rakit Hilang Sebelum Digerebek

Bila klaimnya benar, ini berpotensi menjadi inovasi disruptif paling besar dalam dunia otomotif sejak kehadiran lithium-ion pada awal 1990an.

Namun seperti halnya terobosan radikal lain, klaim ini segera memicu kombinasi antara kekaguman, harapan, keraguan, hingga skeptisisme dari publik maupun pakar energi.

Nama M. Ikhlas Thamrin pendiri Bobibos sebelumnya dikenal melalui inovasi bahan bakar alternatif dari limbah jerami.

Bobibos diklaim memiliki emisi lebih rendah dan RON setara BBM premium di pasar.

Baca Juga: KRIS BPJS Terancam Molor Lagi? Rumah Sakit Belum Siap, Iuran Bisa Ikut Naik

Kini, ia kembali membawa gagasan besar yaitu mengembangkan jenis baterai baru yang disebut mampu menghasilkan atau memulihkan energinya sendiri.

Sehingga kendaraan listrik tidak lagi perlu di-charge melalui charger eksternal.

Dalam wawancara dengan sejumlah media lokal, Ikhlas menyebut bahwa Serum Battery tengah masuk tahap riset generasi kedua.

Ia mengklaim teknologi tersebut bekerja berdasarkan rekayasa kimia dan konduktivitas alternatif yang memungkinkan energi “dipulihkan” tanpa colokan listrik.

Meski detail mekanisme belum diungkap, pernyataan itu cukup untuk membuat publik penasaran dan industri penasaran.

Teknologi baterai yang tidak perlu di-charge akan mengguncang hampir seluruh rantai industri mobil listrik.

Stasiun pengisian daya (charging station) menjadi tidak relevan, pabrikan mobil listrik harus menyesuaikan desain dan sistem manajemen baterai.

Produsen baterai lithium-ion menghadapi ancaman eksistensial, negara penghasil bahan baku (seperti nikel, kobalt, litium) terpengaruh karena bahan baru mungkin berbeda.

Baca Juga: Tarif Listrik PLN Persero Periode 18–23 November 2025 Tidak Naik, Ini Rincian Lebih Jelas

Biaya kepemilikan (TCO) mobil listrik bisa turun drastis, industri minyak yang selama ini melawan transisi energi bisa terkena dampak lanjutan.

Banyak pihak menyebut bahwa jika Serum Battery benar-benar bekerja seperti klaimnya.

Maka Indonesia bisa menjadi pusat inovasi energi baru yang selama ini didominasi negara maju.

Di balik hype besar itu, muncul juga pertanyaan besar, bagaimana prinsip kerja baterai yang “tidak perlu dicharge dari luar”?

Baca Juga: Tes CPNS Khusus AMOR Digelar 2025, Kuota 80 Persen untuk Anak Amungme dan Kamoro Sesuai Instruksi Bupati

Para peneliti energi dan fisika yang diwawancarai beberapa media mengatakan bahwa klaim ini memerlukan penjelasan ilmiah yang jauh lebih rinci.

Mereka meminta bukti prototipe teruji, publikasi ilmiah, hingga verifikasi independen sebelum teknologi ini dianggap layak komersial.

Peneliti dari beberapa lembaga energi menyebut bahwa “energi yang muncul dari diri sendiri” bukan konsep yang bisa diterima tanpa penjelasan.

Energi harus berasal dari suatu proses reaksi kimia, konversi panas, energi mekanik, atau sumber eksternal lain.

Sebelum dunia bisa menerima klaim sebesar itu, semuanya perlu diverifikasi.

Namun, mereka juga membuka peluang bahwa riset alternatif memang dapat membawa terobosan besar.

Media sosial memanas setelah kabar ini tersebar. Ada yang menyebut teknologi ini sebagai “kebangkitan riset Indonesia”.

Ada pula yang menyindir bahwa ini mirip “klaim terlalu cepat” yang sering muncul sebelum diuji secara ilmiah.

Reaksi ini menggambarkan bahwa isu teknologi energilah yang paling sensitif penuh harapan, tapi rawan disalahpahami.

Baca Juga: Aksi Kejar-kejaran Pelajar di Serang Berujung Kecelakaan, Pemicu Diduga Tuduhan Tak Berdasar

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah atau lembaga riset nasional terkait Serum Battery.

Namun para pengamat menyebut pemerintah kemungkinan akan meminta uji validasi formal apabila inovasi ini mulai menunjukkan hasil yang sahih.

Sementara itu, beberapa pelaku industri otomotif menyikapi isu ini sebagai peluang, tetapi juga menekankan perlunya “transparansi teknis”.

Jika klaim ini terbukti, dunia otomotif bisa memasuki babak baru. Tetapi jika tidak, publik tetap menghargai keberanian riset energi alternatif dari peneliti lokal.

Yang jelas, inovasi seperti ini membuat ekosistem energi Indonesia semakin diperhatikan dunia.***