POJOKSATU.ID - Gedung DPRD Bojonegoro kembali menjadi sorotan publik setelah plafon ruang sidang paripurna ambruk akibat hujan deras disertai angin kencang.
Insiden tersebut terjadi pada Selasa petang, saat wilayah Bojonegoro diguyur cuaca ekstrem.
Akibat kejadian itu, air hujan masuk dan menggenangi ruang paripurna.
Baca Juga: Empat Program BPJS Ketenagakerjaan yang Wajib Diketahui Pekerja Indonesia
Beruntung, tidak ada aktivitas sidang maupun kegiatan lain di dalam ruangan saat peristiwa berlangsung sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Ketua DPRD Bojonegoro, Abdullah Umar, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya langsung melakukan langkah penanganan setelah plafon runtuh.
“Benar, sekarang proses perbaikan dan pembersihan,” ujar Abdullah Umar, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com (28/12/2025).
Baca Juga: Mengenal Program BPJS Kesehatan, Layanan Medis dari Faskes Pertama sampai Rumah Sakit Rujukan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerusakan terjadi di area dekat pintu masuk ruang sidang paripurna.
Plafon yang ambruk memiliki ukuran cukup besar, diperkirakan mencapai sekitar 25 meter kali 5 meter.
Material plafon runtuh setelah tidak mampu menahan beban air hujan yang menggenang di atasnya.
Baca Juga: BPJS Kesehatan, Pengertian, Dasar Hukum, dan Ragam Program Jaminan Kesehatan Nasional
Diduga kuat, insiden tersebut dipicu oleh kebocoran pada bagian atap gedung.
Air hujan yang masuk secara perlahan menumpuk di atas plafon hingga akhirnya menyebabkan struktur plafon tidak kuat menahan beban dan runtuh.
Peristiwa ini memicu perhatian publik karena gedung DPRD Bojonegoro tergolong baru.
Baca Juga: Lulusan SMA Masuk CPNS? Ini Gambaran Gaji dan Tunjangan yang Akan Didapat
Gedung megah tersebut diketahui baru diresmikan pada tahun 2023 dan dibangun menggunakan anggaran sekitar Rp77,8 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Bojonegoro tahun 2022.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pembangunan gedung wakil rakyat tersebut.
Banyak pihak menilai, gedung yang baru berusia dua tahun seharusnya memiliki konstruksi yang kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem.
Baca Juga: Tunjangan Khusus Guru di Aceh, Sumut, Sumbar, dan Jatim Cair Desember, Ini Syarat dan Imbauannya
Pihak DPRD memastikan proses pembersihan dilakukan agar ruang paripurna dapat segera digunakan kembali.
Perbaikan atap dan plafon juga akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Meski tidak ada korban, insiden ini menjadi peringatan serius terkait pentingnya pengawasan kualitas bangunan publik.
Gedung pemerintahan yang dibangun dengan anggaran besar diharapkan mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi para penggunanya.
Cuaca ekstrem yang melanda Bojonegoro dalam beberapa hari terakhir memang menyebabkan sejumlah kerusakan di berbagai titik.
Namun, runtuhnya plafon gedung DPRD tetap menjadi sorotan karena menyangkut fasilitas negara yang dibangun dari uang rakyat.
Publik kini menunggu langkah lanjutan pemerintah daerah dan DPRD Bojonegoro, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap bangunan serta pertanggungjawaban pihak-pihak terkait dalam proyek pembangunan gedung tersebut.***




