POJOKSATU.id, BANJARNEGARA— Keseharian Slamet Tohari atau Mbah Slamet (45) sebagai dukun pengganda uang di Wanayasa Banjarnegara dibeberkan kepala desa dan tetangga rumahnya.

Kepala desa dan tetangga Mbah Slamet mengakui jika selama ini banyak tamu dari luar kota yang datang ke Desa Balun, ada yang dari Palembang, Pekalongan, dan Karanganyar.

Slamet Tohari atau dukun Slamet merupakan warga RT 17 RW 4, Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, Jateng.

Dalam kesehariannya, Slamet dikenal tertutup dan jarang bergaul dengan warga sekitar.

Kepala Desa Balun Mahbudiono mengatakan, Tohari alias Slamet memang warganya.

Baca Juga :

Kejamnya Pembunuhan Berantai Mbah Slamet, Usai Diracun Potas Korban Dikubur Pakai Baju Lengkap

Namun yang bersangkutan jarang muncul dan bergaul dengan masyarakat, bahkan saat didatangi ke rumahnyapun yang bersangkutan jarang di tempat.

Slamet yang tertutup dengan warga ini ternyata sering bepergian dengan warga luar kampung, bahkan bisa sampai beberapa hari jika keluar dari kampung.

"Orangnya tertutup, jadi tidak banyak yang tahu kegiatan yang dilakukannya," ujarnya.

Baca Juga :

Hilangkan 11 Nyawa, Motif Dukun Pengganda Uang Slamet Lakukan Pembunuhan Berantai di Banjarnegara Tak Jauh dari Tipu-tipu

Diakui kepala desa, beberapa hari sebelum kasus ini terbongkar, banyak warga luar kota yang menanyakan keberadaan Slamet.

"Kebanyakan dari luar kota, ada juga yang sempat bertanya ke desa. Warga juga hanya mendengar kalau yang Slamet sering dan bisa melakukan ritual penggandaan uang," katanya.

Tamu-tamu dari Pekalongan dan Palembang


Nama Slamet Tohari atau Mbah Slamet dukun pengganda uang ternyata tak terkenal di desanya di Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara.

Tetangga pun kaget ketika mengetahui dukun pengganda uang itu melakukan pembunuhan berantai.

"Di sini tidak begitu terkenal. Jadi saya kaget dan tidak menyangka," kata pemilik warung makan dekat rumah Mbah Slamet, Kularsih, Senin (3/4/2023).

Kularsih mengaku kaget ketika ada kabar pembunuhan berantai yang dilakukan Mbah Slamet. Terlebih jasad para korban dimakamkan di kebun milik Mbah Slamet di dekat hutan.

Dia menerangkan selama ini, Mbah Slamet bahkan tidak pernah jajan atau sekadar mampir di warung makannya.

Namun, warung yang berada di gang dekat rumah Mbah Slamet itu banyak didatangi para tamu luar kota yang menanyakan rumah dukun pengganda uang Banjarnegara itu.

Dia menyebut beberapa tamu luar kota itu di antaranya mengaku berasal dari Pekalongan dan Palembang. Kularsih pun mengetahui jika tetangganya seorang dukun dari tamu asal Pekalongan.

"Ada orang dari Pekalongan menanyakan rumah Mbah Slamet. Katanya bisa menggandakan uang. Nah saya tahu kalau dia bisa menggandakan uang dari orang Pekalongan itu," jelasnya.

Tetangga Mbah Slamet ini mengaku sempat ditanya tamu dari Palembang yang mencari keluarganya. Tamu itu menyebut anggota keluarganya tak pulang setelah pergi ke Desa Balun.(ikror/pojoksatu)