POJOKSATU.ID - Penanganan pascabencana di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menghadirkan pemandangan tidak biasa.

Beberapa ekor gajah Sumatra dikerahkan untuk membantu membersihkan tumpukan kayu gelondongan yang berserakan pascabanjir bandang.

Langkah ini dilakukan tim gabungan pada Senin, 8 Desember 2025, sebagai strategi untuk mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak.

Baca Juga: Jika 2 Minggu Bisa Jadi Guru Profesional, Lalu Mengapa PPG Prajabatan Harus 1 Tahun dan Seleksi Sedemikian Berat?

Pemanfaatan gajah dinilai sangat efektif terutama di area yang sulit dijangkau alat berat.

Medan yang licin, banyak genangan lumpur, serta tumpukan material membuat proses evakuasi kayu berukuran besar menjadi lebih rumit.

Di titik seperti inilah kemampuan gajah untuk menarik, menggeser, dan memindahkan kayu gelondongan menjadi sangat penting.

Tim lapangan menyebut bahwa pengerahan gajah membantu menghemat waktu dan mempercepat pembersihan jalur yang tertutup tumpukan kayu.

Baca Juga: Serius Ingin Naik Kelas, Pemkot Depok Adopsi Strategi Toleransi Kota Salatiga

Tanpa bantuan hewan berukuran besar ini, proses evakuasi diperkirakan memakan waktu lebih lama mengingat berat dan jumlah kayu yang terbawa arus banjir.

Kehadiran gajah di lokasi bencana bukan hal baru di Aceh.

Dalam beberapa kejadian sebelumnya, hewan ini juga digunakan untuk operasi serupa, terutama ketika jalur menuju lokasi terdampak tidak memungkinkan bagi alat berat untuk masuk.

Baca Juga: PPG Daljab Dinilai Tidak Seragam, Profesionalisme Guru Dipertanyakan? Ini Faktanya

Meski demikian, penggunaan gajah tetap disebut tidak biasa karena jarang terlihat di wilayah permukiman.

Menurut petugas di lapangan, dukungan gajah memungkinkan tim membuka kembali akses menuju permukiman warga yang sebelumnya tertutup material banjir.

Pembukaan jalur ini sangat vital, terutama untuk menyalurkan bantuan logistik, mengirim tenaga medis, dan memudahkan warga kembali membersihkan rumah mereka.

Baca Juga: Depok Bakal Secantik Jepang Lewat Penanaman Pohon Tabebuya di Sejumlah Titik Strategis

Bagi masyarakat Meureudu, langkah ini membawa harapan baru.

Tumpukan kayu gelondongan yang sebelumnya menjadi ancaman keselamatan karena dapat bergeser sewaktu-waktu kini berhasil dipindahkan secara bertahap.

Dengan jalur yang mulai terbuka, aktivitas pembersihan lingkungan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih aman.

Di sisi lain, penggunaan gajah juga membantu mengurangi risiko bagi petugas. Menarik kayu besar secara manual sangat berbahaya, terutama di atas genangan lumpur yang licin.

Baca Juga: Bangun Ekosistem Solid, Pemkot Depok Tekankan Komunitas Kreatif tak Boleh Jalan Sendiri

Dengan melibatkan gajah, petugas dapat menjaga jarak aman sambil tetap mengendalikan proses evakuasi.

Tim gabungan yang terlibat dalam operasi ini terdiri dari petugas BPBD, TNI, Polri, relawan, serta pawang gajah dari konservasi lokal.

Mereka bekerja simultan untuk menyingkirkan material yang masih menutup jalur dan mengancam permukiman warga.

Langkah ini menjadi salah satu strategi percepatan pemulihan pascabencana.

Baca Juga: Bupati Tapanuli Selatan Dipersulit Sampai 3 Kali Surati Kemenhut Minta Nama-nama Bos Penebang Hutan

Pemerintah daerah berharap pembersihan kayu gelondongan dapat segera tuntas sehingga proses rehabilitasi lingkungan dan perbaikan rumah warga bisa dimulai.

Dengan medan yang kini lebih terbuka, proses penyaluran bantuan akan semakin mudah dilakukan.

Penggunaan gajah terbukti memberi dampak besar dalam waktu singkat.

Di tengah keterbatasan alat dan medan yang ekstrem, hewan cerdas ini kembali menunjukkan perannya dalam membantu masyarakat Aceh bangkit dari bencana.***