POJOKSATU.ID - Dua kontainer berisi barang bantuan dari masyarakat Jawa Timur untuk korban bencana alam di Aceh Tamiang dilaporkan tertahan di wilayah Sumatera Utara.
Bantuan tersebut dikirim oleh Relawan Posko Malang Bersatu–Gimbal Alas Indonesia, namun hingga kini belum dapat diteruskan ke lokasi tujuan.
Para relawan mengaku kecewa lantaran bantuan yang seharusnya bisa segera diambil di Pelabuhan Belawan, Medan, justru dialihkan ke gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara.
Kondisi ini dinilai menghambat distribusi bantuan kepada warga terdampak bencana.
Menurut keterangan relawan, terjadi perubahan mekanisme pengiriman kontainer tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu.
Awalnya, bantuan direncanakan dapat langsung diambil relawan di pelabuhan untuk kemudian dikirim ke Aceh Tamiang.
Baca Juga: Persaingan CPNS 2026 Menggila, Pelamar Diminta Lebih Cermat Pilih Formasi
Namun kenyataannya, dua kontainer tersebut justru dibawa ke gudang BPBD Sumut.
Akibat perubahan tersebut, relawan diminta menanggung biaya pengangkutan tambahan sebesar Rp2,4 juta.
Perwakilan relawan Malang Bersatu–Gimbal Alas Indonesia, Dika, menyebut permintaan biaya tersebut sangat memberatkan.
Baca Juga: Wajib Tahu! Segini Passing Grade SKD CPNS 2026 yang Harus Ditembus Pelamar!
Ia menilai kesalahan bukan berasal dari pihak relawan, melainkan dari perubahan teknis pengiriman.
“Kami ini relawan, semua bergerak secara gotong royong. Harusnya bantuan dipermudah supaya cepat sampai ke Aceh Tamiang, bukan malah dipersulit,” ujar Dika, dikutip pojoksatu.id dari instagram @medanundercover.co (28/12/2025).
Dika menegaskan, dana yang digunakan relawan sepenuhnya berasal dari sumbangan masyarakat.
Baca Juga: Calon Pelamar Wajib Tahu, Passing Grade SKD CPNS 2026 Terdiri Dari 3 Komponen!
Tambahan biaya yang tidak terduga dikhawatirkan akan menghambat keberlanjutan misi kemanusiaan yang mereka jalankan.
Ia juga menyayangkan sikap pihak terkait yang dinilai kurang memberikan solusi.
Relawan menyebut baik BPBD Sumut maupun PT Pelni Cabang Medan tetap membebankan biaya pengangkutan tersebut kepada relawan.
Baca Juga: Cara Tukar Poin Gelegar Jadi Voucher Listrik Rp50 Ribu di PLN Mobile, Berlaku Sampai Akhir 2025
Hingga saat ini, dua kontainer bantuan tersebut belum dapat diambil karena masih terkendala persoalan administrasi.
Kondisi ini membuat bantuan berupa logistik kebutuhan pokok dan perlengkapan lainnya belum bisa disalurkan kepada para korban bencana alam di Aceh Tamiang.
Para relawan berharap ada kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan kemanusiaan.
Baca Juga: Tunjangan Guru Terdampak Bencana Resmi Cair, Ini Fakta Anggaran dan Langkah yang Perlu Dilakukan
Mereka meminta agar proses distribusi bantuan dipermudah, mengingat barang-barang tersebut sangat dibutuhkan oleh warga yang sedang menghadapi situasi darurat.
“Kami hanya ingin bantuan ini segera sampai ke tangan korban. Itu tujuan utama kami,” kata Dika.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut kelancaran distribusi bantuan bencana.
Relawan berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat segera turun tangan mencari solusi, sehingga tidak ada lagi hambatan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan.
Masyarakat pun berharap persoalan ini segera diselesaikan, agar semangat gotong royong dan solidaritas untuk korban bencana tidak terhambat oleh masalah teknis dan birokrasi.***




