POJOKSATU.id, JAKARTA— Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Wihadi Wiyanto tak setuju dengan usulan mantan Wapres Jusuf Kalla menaikkan harga BBM saat ini.

Menurut anggota DPR RI yang berasal dari Fraksi Gerindra ini, pondasi dan kinerja APBN kita saat ini sehat dan stabilitas serta pertumbuhan ekonomi dalam kondisi terjaga.

Wihadi Wiyanto ikut merespons usulan Jusuf Kalla (JK) agar pemerintah menaikkan harga BBM.

Alasannya, subsidi energi khususnya BBM diyakini JK akan membuat defisit APBN semakin membengkak dan menumpuk utang.

Baca Juga: Prabowo Bertolak Lagi ke Luar Negeri Minggu Ini Temui Putin, Bahas Geopolitik dan Minyak

Menurut Wihadi, APBN tidak dapat dilihat hanya dari sisi penerimaan dan belanja saja, melainkan juga dari fungsinya sebagai instrumen stabilisasi yang secara aktif digunakan untuk menyerap gejolak eksternal agar tidak langsung berdampak pada masyarakat.

"Fundamental ekonomi kita tetap terjaga, dengan inflasi yang terkendali di level 3,48 persen pada Maret 2026, pertumbuhan ekonomi Q4 2025 mencapai 5,39 persen, serta PMI manufaktur yang berada di zona ekspansif," ujar Wihadi kepada wartawan, Sabtu 11 April 2026.

Dalam kondisi tersebut, kata Wihadi, APBN sangat mampu bekerja sebagai shock absorber untuk menahan tekanan global, khususnya dari sektor energi, agar tidak langsung membebani masyarakat.

Baca Juga: Dari Profesionalitas hingga Kesejahteraan, Ini Filosofi di Balik 3 Jenis Tunjangan Guru 2026 yang Jarang Dibahas tapi Penting Dipahami

Secara fiskal, sambungnya, kondisi APBN masih berada dalam koridor yang terjaga, dengan defisit yang terkendali dan rasio utang tetap pada level yang aman.

"Kondisi APBN kita sehat, tercermin dari kinerja pendapatan negara hingga Maret 2026 yang mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen YoY," ujar Wihadi.

Dia mengungkap bahwa pihaknya telah menerima penjelasan pemerintah terkait langkah refocusing anggaran melalui efisiensi belanja non-prioritas untuk menambah anggaran subsidi energi.

Langkah ini, menurutnya, diperlukan untuk menghindari efek domino terhadap perekonomian nasional.

"Kenaikan harga energi akan menyebabkan inflasi yang menyebabkan pelemahan daya beli dan peningkatan cost of fund. Efek berantai ini dapat mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi kita yang saat ini tengah berada pada momentum yang baik," tegasnya.***