POJOKSATU.id, KEDIRI—Seorang balita di Kediri berinisial AF (3) diduga kuat dibunuh kedua orangtuanya. Balita malang ini mengalami pendarahan di kepala akibat kekerasan benda tumpul.
Peristiwa kekerasan terhadap balita tiga tahun berinisial AF ini terjadi di Tugurejo, Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Korban AF diduga meninggal dunia setelah dianiaya orang tua korban berinisial TA dan NO. TA merupakan ayah sambung. Sementara NO merupakan ibu kandung korban.
Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Fauzy Pratama, mengatakan, pihaknya menyelidiki kasus kematian balita tiga tahun. Polres Kediri tengah mengusut kasus ini.
Baca Juga: Boyongan IKN
"Ada luka di bagian kepala, badan, tapi detailnya belum," kata Fauzy, Rabu (26/6).
TA dan NO diketahui baru menikah awal Januari 2024, dan korban AF diajak pindah ke rumah TA pada Februari 2024.
Pada Senin (24/6), TA dan NO berkunjung ke rumah orang tuanya di Nganjuk, tanpa mengajak cucunya.
Saat itu Suyono sempat tanya hingga tiga kali, kemudian dijawab bahwa AF sudah meninggal dunia, Sabtu (22/6), dan jenazahnya dikubur di sebelah rumah.
Mendengar itu, kakek korban langsung ke Kediri dan melaporkan kejadian itu ke perangkat desa dan polisi.
Tak lama, polisi datang ke makam korban dan menemukannya. Jenazah korban dibawa ke RS Bhayangkara Kediri untuk autopsi.
Kasus itu terbongkar dari laporan kakek korban, Suyono, yang tinggal di Nganjuk.
Petugas sudah memeriksa jenazah korban, ditemukan ada pendarahan di bagian kepala yang diakibatkan kekerasan benda tumpul.
Saat itu juga Polres Kediri langsung menahan kedua orangtua korban. Kepada polisi, mereka mengatakan kesal dengan sikap sang anak, hingga akhirnya tega melakukan kekerasan.
Saat itu korban dianiaya hingga tidak sadar. Mereka sempat memberikan pertolongan namun nyawa bocah malang itu tak tertolong, hingga akhirnya dikuburkan di sebelah rumah.
"Setelah pelaku yakin si anak tidak bernyawa lagi, akhirnya diambil tindakan untuk menguburkan," kata Fauzy.
Pihaknya menduga penganiayaan dilakukan beberapa kali di waktu yang berbeda, termasuk yang menyebabkan kematian pada korban.
"Dua-duanya punya peran masing-masing. Untuk skala mana yang menyebabkan kematian korban, kami belum tahu," kata Fauzy.
Sementara itu, kakek korban, Suyono menyesalkan kejadian itu. Ia sedih, cucunya meninggal dunia dan dimakamkan tidak sebagaimana mestinya. Untuk itu ia meminta polisi mengizinkan memakamkan cucunya di Nganjuk.
"Keluarga mau membawa ke Nganjuk. Penting, harus saya bawa pulang," kata Suyono.***




