POJOKSATU.id — Hujan buatan pada musim kemarau dilakukan melalui teknologi yang dikenal sebagai modifikasi cuaca atau cloud seeding.

Meski sering disebut sebagai cara untuk membuat hujan, metode ini tidak mampu menghasilkan awan ketika langit benar-benar cerah.

Teknologi tersebut hanya berfungsi meningkatkan kemungkinan turunnya hujan apabila sudah tersedia awan yang memiliki kandungan uap air dalam jumlah memadai.

Sebelum proses penyemaian dilakukan, tim meteorologi terlebih dahulu mengamati kondisi atmosfer menggunakan berbagai peralatan, seperti satelit cuaca, radar, serta model prakiraan cuaca.

Baca Juga: DPRD Kota Bandung Bentuk Pansus Revisi Perda Sampah, Bidik Solusi dari Hulu hingga Hilir

Dari hasil pemantauan tersebut, mereka menentukan awan yang berpotensi berkembang menjadi awan hujan.

Umumnya, awan yang dipilih adalah awan kumulus yang masih berada pada fase pertumbuhan dan memiliki kandungan air yang cukup untuk mendukung proses pembentukan hujan.

Setelah lokasi dan waktu yang tepat ditentukan, proses penyemaian awan mulai dilaksanakan.

Bahan penyemaian biasanya disebarkan menggunakan pesawat terbang, meskipun dalam kondisi tertentu dapat pula memanfaatkan roket atau generator yang dioperasikan dari permukaan.

Jenis bahan yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik awan dan tujuan operasi.

Baca Juga: Hak Tunjangan dan Pensiun Anak PNS Berbeda, Ini Penjelasan BKN soal Anak Kandung, Anak Tiri, dan Anak Angkat

Pada awan hangat, garam atau natrium klorida (NaCl) menjadi salah satu bahan yang paling sering digunakan.

Sementara itu, pada kondisi tertentu dapat digunakan bahan lain, seperti perak iodida atau silver iodide.

Partikel penyemaian yang telah masuk ke dalam awan kemudian berfungsi sebagai inti kondensasi, yaitu tempat berkumpulnya uap air.

Seiring waktu, butiran air akan terus membesar melalui proses tumbukan dan penggabungan dengan tetesan air lainnya.

Ketika ukurannya telah cukup besar dan berat, butiran tersebut akan jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan.

Baca Juga: Hak Tunjangan dan Pensiun Anak PNS Berbeda, Ini Penjelasan BKN soal Anak Kandung, Anak Tiri, dan Anak Angkat

Meski demikian, hujan buatan tidak selalu memberikan hasil sesuai harapan.

Tingkat keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Mulai dari keberadaan awan yang memenuhi syarat, kandungan uap air di dalam awan, arah serta kecepatan angin, hingga kondisi suhu dan atmosfer saat penyemaian dilakukan.

Apabila langit benar-benar tidak memiliki awan, proses modifikasi cuaca hampir tidak mungkin menghasilkan hujan karena tidak ada media yang dapat disemai.

Pada musim kemarau, teknologi hujan buatan umumnya dimanfaatkan untuk meningkatkan ketersediaan air di waduk dan bendungan, mendukung kebutuhan irigasi pertanian, mengurangi dampak kekeringan, serta membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan melalui peningkatan kelembapan atau memicu hujan di wilayah yang kondisinya memungkinkan.

Baca Juga: KAI Daop 3 Cirebon Intensifkan Perawatan Persinyalan dan Telekomunikasi, Ribuan Perangkat Dipastikan Andal Demi Keselamatan Perjalanan KA

Dengan demikian, hujan buatan bukanlah proses menciptakan hujan dari kondisi langit yang kosong tanpa awan.

Teknologi ini pada dasarnya memanfaatkan awan yang telah terbentuk agar peluang terjadinya hujan menjadi lebih besar.

Oleh karena itu, keberhasilannya tetap sangat bergantung pada kondisi cuaca dan atmosfer yang mendukung.***