POJOKSATU.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan kritik tajam terkait program food estate (lumbung pangan) yang ia usung.

Kritikan ini datang dari pasangan calon nomor urut satu, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang menganggap program tersebut gagal.

Anies kembali menegaskan pandangannya pada debat ketiga calon presiden 2024, menyatakan bahwa food estate, khususnya proyek singkong di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, tidak memberikan keuntungan bagi petani dan justru merugikan lingkungan.

Investigasi dari Pantau Gambut, Walhi Kalimantan Tengah, dan BBC Indonesia menunjukkan adanya masalah di proyek tersebut, dengan 3.964 hektare lahan kehilangan tutupan pohon tanpa hasil pangan singkong pada tahun lalu.

Baca Juga: Kampanye ke Riau dan Jambi, Prabowo ‘Tembak’ Anies Baswedan : Dia Mau Bikin Rakyat Benci Saya

Desa Humbang Raya mencatatkan kehilangan terbesar hingga 459 hektare.

Program food estate ini adalah bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024 yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani, terutama di masa pandemi Covid-19 dan perubahan iklim.

Pemerintah, melalui Badan Pangan Nasional (NFA), mendorong penguatan lumbung pangan di seluruh Indonesia, sebagai upaya meningkatkan kemandirian pangan.

Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan NFA, Rachmi Widiriani, menyatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki 4.868 lumbung pangan masyarakat yang tersebar di 388 Kabupaten dan 33 Provinsi.

Pengembangan food estate, sebagai bagian dari PSN, dilakukan dengan membangun food estate di beberapa wilayah seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur sejak tahun 2020.

Pengembangan ini mengubah pendekatan pertanian dari konvensional menjadi skala usaha yang lebih luas dengan penerapan inovasi teknologi.

Baca Juga: Prabowo Akhirnya Buka Suara Soal Lahan Ribuan Hektare Miliknya yang Disinggung Anies, Oh Ternyata

Namun, aktivis lingkungan dari Greenpeace Indonesia menemukan tanaman jagung di lahan food estate di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, tumbuh dalam polybag.

Hal ini menimbulkan kontroversi karena awalnya lahan tersebut ditanami singkong dan dianggap sebagai proyek yang gagal.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, membantah temuan tersebut, mengklaim bahwa penggunaan polybag hanya untuk benih percobaan.

Meski begitu, kritik terhadap program food estate tetap muncul.

Greenpeace menilai bahwa proyek ini tidak mempertimbangkan karakteristik lahan yang tidak subur, dan pemerintah perlu memperhatikan dampak lingkungan serta menghindari pembabatan hutan yang dapat menyebabkan krisis iklim dan pangan.***