POJOKSATU.id, JAKARTA – Pengamat politik Ahmad Khoirul Umam menilai PDIP kehilangan golden ticket dan dominasi di politik lokal Jakarta di tahun 2024 ini.
Sehingga PDIP butuh kekuatan tambahan untuk berhadap-hadapan dengan pemenang Pilpres 2024 yang sebentar lagi akan memegang kekuasaan pemerintahan.
Diketahui, PDIP dan Anies Baswedan saat ini saling tertarik atau saling memuji. Interaksi simbolik antara Anies dan PDIP ini merupakan bagian dari upaya penjajakan dengan saling mengirim sinyal.
Ahmad Khoirul Umam mulanya menganalisis saling puji antara PDIP dan Anies Baswedan yang terjadi belakangan ini usai Pilpres atau Pemilu 2024.
Menurutnya, interaksi simbolik antara Anies dan PDIP ini merupakan bagian dari upaya penjajakan dengan saling mengirim sinyal terkait potensi kerja sama di Pilkada Jakarta 2024.
Baca Juga: Bey Machmudin Apresiasi Film 'Dilan 1983: Wo Ai Ni', Bandung Kembali Jadi Perhatian
Meskipun Anies dan PDIP berada pada gerbong yang berbeda secara politik maupun ideologis di Pilkada Jakarta 2019 dan Pilpres 2024, namun di Pilkada Jakarta 2024 ini bisa jadi kedua entitas ini dipertemukan oleh kepentingan yang sama.
Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) ini menyebut PDIP memang membutuhkan kekuatan tambahan untuk Pilkada Jakarta.
Sedangkan, Anies, butuh dukungan untuk tetap bertahan secara politik.
"PDIP kehilangan golden ticket dan dominasinya di politik lokal Jakarta, sehingga butuh kekuatan tambahan untuk berhadap-hadapan dengan pemenang Pemilu 2024 yang akan pegang kekuasaan,” jelasnya, Sabtu (8/6/2024).
“Dan tidak akan melepaskan kepemimpinan Jakarta berada di luar kontrol dan kendali mereka sebagai penguasa," ucapnya lagi.
Baca Juga: Ketimbang Lawan Anies Baswedan, Ridwan Kamil Idealnya Kembali Maju di Pilgub Jabar 2024
Di sisi lain, kata Umam, Anies juga sangat berkepentingan menjaga kartu politiknya agar tetap hidup dan relevan hingga Pilpres 2029 mendatang.
Anies yang merupakan petahana dan memiliki basis massa yang memadai di DKI Jakarta akan dilirik dan melirik PDIP yang memiliki 16% dukungan di Jakarta.
Dia menyebut jika Anies dan PDIP bersatu, maka tidak ada lagi pertentangan ideologis antara keduanya.
Menurutnya, dua kekuatan politik bisa melebur menjadi satu yang mana selama ini menjadi representasi kekuatan politik kanan nasionalis dan Islam.
Sementara sisi negatif dari persatuan Anies dan PDIP ini, dia menilai akan ada peluang keduanya kehilangan basis pemilih loyal, baik di Jakarta atau di jaringan relawan nasional yang selama ini terkonsolidasi oleh sentimen ideologis yang kuat.
Selain itu, jika Anies mendapat dukungan PDIP, ia masih harus bisa memastikan mendapatkan dukungan 1 partai politik lagi.
Di sisi lain, partai-partai Koalisi Perubahan di Pemilu 2024 telah mengalami faksionalisme dan tengah melakukan penjajagan untuk masuk ke pemerintahan Prabowo-Gibran, yang besar kemungkinan berdampak pada baku atur komposisi koalisi Pilkada DKI Jakarta.
Atas dasar plus minus itu lah, dia melihat persatuan Anies dan PDIP masih terlalu dini. Belum ada indikasi lanjutan yang lebih kuat yang memungkinkan konsolidasi politik itu terjadi.***




