POJOKSATU.id, JAKARTA-- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Hj Salmawati mengecam keras dugaan aksi brutal yang dilakukan oknum TNI terhadap masyarakat Aceh saat pengawalan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Aceh Tamiang.
Menurut anggota Dewan yang akrab disapa Bunda Salma ini, tindakan kekerasan tidak hanya melukai fisik warga, tetapi juga melukai rasa keadilan dan kemanusiaan masyarakat yang sedang berada dalam situasi bencana.
Bunda Salma menegaskan bahwa insiden tersebut berpotensi membangkitkan kembali luka lama di tengah masyarakat Aceh, yang memiliki sejarah panjang konflik.
Baca Juga: Bagaimana Nasib 163 Orang yang Masih Hilang, Sudah Lebih Sebulan Banjir Terjang Utara Sumatera
Ia mengingatkan agar semua pihak, khususnya aparat negara, bersikap lebih bijak dan humanis dalam menghadapi masyarakat yang tengah berduka.
“Masyarakat Aceh ini bekas konflik panjang. Jangan sekali-kali membangkitkan luka lama,” tegasnya.
Ia juga menyoroti munculnya aksi simbolik pengibaran bendera oleh sebagian warga sebagai bentuk protes dan kekecewaan.
Menurut Bunda Salma, tindakan tersebut tidak bisa dilepaskan dari rasa frustasi masyarakat yang hingga kini belum melihat adanya penetapan status bencana nasional oleh pemerintah pusat.
“Itu bentuk jeritan rakyat. Mereka ingin pemerintah hadir dan menetapkan Aceh sebagai bencana nasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bunda Salma menyampaikan keprihatinannya atas kondisi warga yang disebut mengalami kekerasan hingga berdarah-darah.
Baca Juga: Top 10 PTN Penerima Peserta SNBP 2025, UNESA Tertinggi dengan 6.200 Mahasiswa
Ia meminta agar peristiwa serupa tidak terulang dan mendesak evaluasi serius terhadap aparat yang bertugas di lapangan.
“Kita kasihan masyarakat. Mereka sedang tertimpa musibah, bukan untuk diperlakukan dengan kekerasan. Negara harus hadir dengan empati, bukan dengan cara-cara represif,” tegasnya.
Sementara itu, pada Jumat dini hari (26/12), sebuah mediasi dilakukan antara koordinator rombongan, Azillul Nazima Tiro, dan pimpinan aparat gabungan.
Baca Juga: Masjid Raya Nurul Wathon Pakansari Perdana Digunakan, Bupati Bogor Salat Subuh Berjamaah
Hasil dari mediasi ini menghasilkan kesepakatan damai antara kedua belah pihak.
Pihak rombongan mengklarifikasi bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahpahaman dan meminta maaf atas insiden yang terjadi, dengan komitmen tidak akan ada tindakan hukum lebih lanjut.
Sementara itu, Kapendam Iskandar Muda Kolonel T Mustafa Kamal buka suara soal insiden warga di Aceh Utara yang dihajar prajurit TNI saat Razia bendera Bintang Bulan.
Menurutnya, kedua belah pihak sudah sepakat untuk berdamai.
Kolonel T Mustafa juga membenarkan adanya aksi kekerasan yang dilakukan oknum prajurit TNI kepada warga. Peristiwa itu disebutnya terjadi karena salah paham.
"Itu salah paham, saling memaafkan, sudah selesai dan damai," katanya kepada wartawan, Jumat (26/12/2025).
Menurutnya, situasi saat ini aman dan damai.
"TNI fokus membantu penanggulangan bencana alam," jelasnya dilansir detikcom.***




