POJOKSATU.id- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam publik setelah beredar video viral emak-emak yang membongkar dugaan ketidaksesuaian anggaran dengan isi makanan yang diterima anak-anak di sekolah.
Dalam video tersebut, sang ibu menyebut anggaran MBG yang diklaim mencapai Rp15 ribu per anak diduga hanya terealisasi sekitar Rp6 ribu dalam bentuk makanan.
Emak-emak tersebut secara rinci memaparkan isi paket MBG yang diterima anaknya.
Bagi pembaca yang ingin ikut berpartisipasi, silakan buka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Menu yang disorot antara lain biskuit seharga Rp1.500, wafer Rp1.750, apel hijau Rp1.500, serta tahu krispi isi tiga potong yang disebut hanya Rp100.
Rincian ini kemudian memicu kemarahan warganet karena dinilai jauh dari nilai anggaran yang diumumkan pemerintah.
“Kalau dihitung-hitung, isinya cuma biskuit, wafer, apel sama tahu krispi. Nilainya nggak sampai Rp15 ribu,” ujar sang ibu dalam video, dikutip pojoksatu.id dari instagram @awreceh.id.
Banyak warganet mempertanyakan transparansi serta pengawasan pelaksanaan program unggulan pemerintah tersebut, yang sejak awal digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi anak.
Dalam rekaman yang beredar, emak-emak tersebut memperlihatkan isi paket makanan yang diterima anaknya di sekolah.
Menu sederhana yang ditunjukkan dinilai jauh dari ekspektasi jika dibandingkan dengan besaran anggaran yang selama ini disampaikan ke publik.
Baca Juga: Liburan Akhir Tahun, Masuk Jalan Tol atau Lewat Jalur Alternatif, Ternyata Ini yang Lebih Efektif
“Kami mendukung program ini, tapi kenyataannya yang diterima anak seperti ini. Kalau anggarannya Rp15 ribu, masa makanannya begini?” ungkap sang ibu dalam video.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah dengan alokasi anggaran besar di APBN 2025.
Program ini menyasar anak sekolah, ibu hamil, serta kelompok rentan dengan tujuan memperbaiki kualitas gizi dan menekan angka stunting.
Baca Juga: Waspadai Mulai Besok, Liburan Akhir Tahun Bikin Macet? Ini Jam Rawan yang Perlu Dihindari
Namun, temuan di lapangan seperti yang disampaikan emak-emak tersebut memunculkan dugaan bahwa nilai anggaran tidak sepenuhnya sampai ke penerima manfaat.
Hal inilah yang kemudian memicu spekulasi adanya pemotongan atau pengelolaan yang tidak maksimal di tingkat pelaksana.
Reaksi publik pun beragam. Sebagian warganet menilai kasus ini harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat agar tidak merusak kepercayaan masyarakat terhadap program bantuan sosial.
Baca Juga: Akulaku Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Sumatera Bersama BAZNAS RI
Ada pula yang meminta aparat pengawas turun langsung melakukan audit di daerah-daerah pelaksana MBG.
Pengamat kebijakan publik menilai, program sebesar MBG membutuhkan pengawasan ketat dari hulu ke hilir.
Tanpa transparansi dan evaluasi berkala, program berisiko menimbulkan masalah baru, mulai dari ketidakpuasan masyarakat hingga potensi penyalahgunaan anggaran.
Di sisi lain, pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa anggaran MBG disesuaikan dengan standar gizi dan harga bahan pangan di masing-masing daerah.
Perbedaan menu dan nilai makanan disebut bisa terjadi karena faktor distribusi dan kondisi lokal.
Meski demikian, kasus viral ini menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar berdampak pada kualitas gizi anak.
Baca Juga: DAM Tebar Promo Spesial Motor Honda Sepanjang Desember 2025
Publik kini menunggu respons resmi pemerintah terkait dugaan tersebut, termasuk kemungkinan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di lapangan.
Bagi masyarakat, video emak-emak itu bukan sekadar keluhan, melainkan bentuk kontrol sosial agar program yang dibiayai uang negara benar-benar tepat sasaran dan memberi manfaat nyata bagi generasi masa depan.***




