POJOKSATU.ID - Pasar Patra di kawasan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mendadak heboh.
Seorang nenek berusia lanjut diamankan warga setelah ketahuan membayar belanjaan dengan uang palsu.
Peristiwa itu bukan sekadar kisah kriminal biasa, tapi potret getir tentang kesenjangan dan kepercayaan yang rapuh di tengah masyarakat kecil.
Baca Juga: TKD Dipangkas, Bagaimana Nasib Gaji PPPK? Ini Penjelasan Resmi Menkeu Purbaya
Siang itu, RM sebut saja begitu, usia sekitar 70 tahun—datang ke pasar membawa uang pecahan seratus ribuan.
Ia membeli beberapa ikat sayur dan tomat dari pedagang langganan. Awalnya tak ada yang curiga.
Namun salah satu pedagang memperhatikan bahwa nomor seri dua lembar uang RM sama persis, lalu merasa janggal dengan teksturnya yang sedikit berbeda.
Warga pun berkerumun. Tak lama, polisi dari Polsek Kebon Jeruk datang dan mengamankan RM untuk dimintai keterangan.
Baca Juga: Data Info GTK Error? Begini Cara Memperbaikinya agar TPG Tak Tertunda!
Dari tasnya ditemukan empat lembar uang Rp100.000 yang semuanya diduga palsu.
Di kantor polisi, pengakuan RM justru membuat publik tercengang.
Ia mengaku membeli uang palsu itu seharga Rp 50 ribu per lembar dari seseorang yang ia kenal di sekitar tempat tinggalnya.
Baca Juga: Viral Isu ASN Tak Bisa Dibebastugaskan, Begini Fakta dan Dasar Hukumnya!
Kasus ini menjadi viral setelah videonya tersebar di media sosial, menimbulkan perdebatan: apakah sang nenek korban atau pelaku?
Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Andriansyah mengatakan bahwa pihaknya belum menetapkan RM sebagai tersangka.
Fokus utama polisi adalah mencari pelaku yang menjual uang palsu tersebut.
Baca Juga: Viral Siswi SMP di Malang Dikeroyok, Sekolah Cuma Diam?
Kepolisian menduga, sindikat uang palsu sengaja memanfaatkan warga dengan ekonomi lemah untuk mengedarkan uang tersebut dalam skala kecil agar tidak mudah terlacak.
Beberapa pedagang di Pasar Patra mengaku sempat rugi puluhan ribu rupiah karena menerima uang palsu serupa.Mereka kini lebih berhati-hati.
Banyak yang mulai menggunakan alat deteksi sederhana, sementara sebagian lainnya memilih menolak uang pecahan besar dari pembeli yang tidak dikenal.
Baca Juga: Akan Dimulai Tahun 2026 di Kota Medan, Pemprov Sumut Canangkan PSEL Atasi Persoalan Sampah
Kasus ini membuka sisi lain kehidupan di pasar tradisional.
Dalam video yang beredar, RM tampak bingung dan gemetar saat diamankan. Banyak warganet bersimpati, menilai sang nenek mungkin korban keadaan ekonomi.
Namun, di sisi lain, hukum tetap harus ditegakkan karena peredaran uang palsu dapat mengacaukan sistem keuangan lokal.
Bank Indonesia mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan selalu memeriksa keaslian uang.
Baca Juga: Gara-gara Salah Ucap, Langsung SP2! Ramai di Medsos Perawat Pontang Disanksi Gara-gara Etika Lisan
Beberapa cara sederhana:
Dilihat: perhatikan warna dan gambar utama, pastikan tidak buram.
Diraba: tekstur uang asli lebih kasar, terutama pada angka nominal.
Diterawang: ada benang pengaman dan watermark bergambar pahlawan.
Selain itu, BI juga menyediakan aplikasi Cek Uang Asli untuk membantu masyarakat mengenali ciri uang resmi melalui kamera ponsel.
Baca Juga: PKL Pasar Serpong Datangi DPRD Tangsel, Desak Peninjauan Ulang Kebijakan Relokasi
Kisah nenek RM bukan sekadar berita viral, tapi peringatan sosial.
Di balik selembar uang palsu, ada persoalan ekonomi, ketidaktahuan, dan peluang kejahatan yang memanfaatkan mereka yang rentan.
Semoga dari kasus ini, masyarakat semakin sadar pentingnya mengenali uang asli dan aparat bisa membongkar jaringan yang bermain di balik layar.
Sebab bagi pedagang kecil, setiap seratus ribu rupiah adalah nafas untuk bertahan hidup.***




