POJOKSATU.id – Temuan terbaru Densus 88 Antiteror Polri membuka fakta baru yang membuat kita harus waspada.

Anak-anak dengan kerentanan emosional ternyata menjadi sasaran favorit jaringan teroris.

Pada 2024–2025, unit antiteror menerima temuan bahwa lebih dari 110 anak usia 10–18 tahun telah terekspos proses perekrutan, sebagian besar melalui aktivitas digital yang sulit dipantau orang tua.

Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan bahwa perubahan pola perekrutan semakin jelas terlihat.

“Perekrutan tidak lagi dilakukan dengan pendekatan konvensional.

Mayoritas kasus yang kami temukan dilakukan lewat media digital, terutama platform yang digunakan remaja setiap hari,” ungkapnya.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana ruang online menjadi pintu masuk baru bagi kelompok ekstrem.

Baca Juga: Densus 88 Tangkap Lima Perekrut Anak-anak yang Mau Bergabung di Kelompok Teroris, Modusnya Bikin Orang Tua Was-was

Dari hasil investigasi, Densus 88 mendapati pola yang seragam, anak-anak yang mengalami bullying, tekanan sosial, konflik keluarga, atau kehilangan figur orang tua jauh lebih mudah dijangkau.

Anak yang merasa kesepian atau terisolasi akan cepat merespons perhatian dari orang asing yang menawarkan dukungan emosional.

“Mereka masuk lewat celah rasa tidak aman,” ujar Trunoyudo.

Menurut AKBP Mayndra Eka Wardhana, perekrut biasanya memulai dengan pesan sederhana, seperti menanyakan kabar, memberi dukungan, atau memuji kemampuan anak.

“Setelah hubungan emosional terbentuk, barulah ideologi ekstrem dimasukkan sedikit demi sedikit. Polanya halus, bertahap, dan sangat manipulatif,” ungkapnya.

Pada banyak kasus, anak-anak yang direkrut mengaku merasa dihargai karena diberikan “peran istimewa”, seperti menjadi admin kecil dalam grup digital.

Baca Juga: Densus 88 Antiteror Ungkap Inspirasi Ideologi yang Diserap Pelaku Bom SMAN 72 Kelapa Gading

Padahal, menurut Densus 88, semua itu hanyalah strategi untuk menumbuhkan loyalitas semu.

Perekrut sengaja membuat anak merasa dibutuhkan agar mereka semakin terikat pada kelompok tersebut.

Psikolog anak yang dilibatkan dalam asesmen menjelaskan fenomena ini sebagai “substitusi emosional”.

Anak menggantikan kehangatan dan perhatian keluarga yang hilang dengan sosok baru yang mereka temui di dunia maya. Ketika hubungan itu tidak sehat, risiko radikalisasi meningkat tajam.

“Bagi anak yang sedang terluka, perhatian semu terasa seperti pertolongan,” kata seorang psikolog yang menangani beberapa korban.

Tidak hanya faktor keluarga yang berperan.

Anak yang mengalami bullying pun jauh lebih rentan.

Perekrut memanfaatkan luka itu dengan narasi bahwa mereka bisa membuktikan diri melalui perjuangan atau dianggap lebih mulia daripada orang-orang yang merendahkan mereka.

Narasi seperti ini, menurut Densus 88, sangat efektif untuk anak yang sedang berusaha memulihkan harga diri.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa mayoritas anak yang terlibat bukanlah pelaku, melainkan korban manipulasi.

Baca Juga: Densus 88: Total Ada 7 Peledak di SMAN 72, Faknya Hanya 4 yang Meledak, Sisanya Gagal

Mereka bukan anak “bermasalah”, namun berada dalam situasi psikologis yang rapuh. Kondisi ini dimanfaatkan secara sistematis oleh jaringan yang sudah terlatih membaca titik lemah calon korbannya.

Untuk menekan risiko radikalisasi, Densus 88 mendorong sekolah memperkuat peran bimbingan konseling dan memastikan guru mampu mendeteksi tanda-tanda kerentanan emosional pada siswa.

Di sisi lain, keluarga juga diimbau membangun komunikasi terbuka agar anak memiliki ruang aman untuk bercerita tentang tekanan yang mereka alami.

Baca Juga: Densus 88 Antiteror Ungkap Pelaku FN Ternyata Bawa 7 Bom ke SMAN 72 Kelapa Gading, 3 Gagal Meledak

Di tengah maraknya manipulasi digital, perlindungan mental anak menjadi kunci utama. B

ukan hanya soal keamanan nasional, tapi juga soal menjaga generasi muda agar tetap tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan penuh dukungan—bukan dalam jebakan pihak yang menjadikan luka mereka sebagai titik masuk. ***