POJOKSATU.id, JAKARTA—Aktivis 98 Ray Rangkuti mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mundur dari jabatannya imbas demo yang meluas akibat kematian ojol Affan Kurniawan (21) di Jakarta.

Pendiri Lingkar Madani (LIMA) Indonesia menilai Kapolri dan Kapolda Metro Jaya sebagai pihak yang paling bertanggung jawab sebagai puncak struktur kepolisian yang komandois.

Menurutnya, Affan Kurniawan adalah demonstran pertama yang tewas dalam aksi menuntut haknya sebagai warga negara di era Presiden Prabowo Subianto.

Ray Rangkuti juga mendesak agar kasus kematian Affan ini diselidiki dengan objektif dan transparan.

Baca Juga: Hari Ketiga Demo Ricuh, Giliran Gedung DPRD Provinsi NTB Dibakar Massa, Fasilitas Kantor Dijarah

Ray meminta Presiden Prabowo untuk mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Metro Jaya Asep Edi Suheri sebagai bentuk tanggung jawab atas kebrutalan anggotanya.

“Menuntut agar baik Kapolri maupun Kapolda Metro Jaya mundur dari jabatan masing-masing,” tegas Ray Rangkuti kepada wartawan, Sabtu (30/8).

“Sebagai puncak struktur kepolisian yang komandois, kejadian seperti ini, lebih dari cukup untuk jadi dasar bagi Kapolri dan Kapolda meletakan jabatan. Kapolda dan Kapolri adalah jabatan puncaknya,” tegas Ray lagi.

Menurut Ray, era Kapolri Listyo Sigit begitu banyak citra polisi tercoreng. Mulai dari kualitas profesional yang menurun.

Baca Juga: YLBHI Minta Presiden Bentuk Tim Independen untuk Melakukan penyelidikan Terkait Aksi Kekerasan Aparat

Bahkan muncul istilah Partai Coklat (Parcok) yang menandai adanya dugaan pengarahan polisi untuk kepentingan politik. Istilah ini sudah muncul pada Pemilu beberapa tahun lalu.

Menurut Ray Rangkuti, Sigit Prabowo juga adalah Kapolri terlama dalam sejarah kepolisian Indonesia. Sigit sudah menjabat sebagai Kapolri sejak 27 Januari 2021 lalu atau sudah 4 tahun.

“Dan sepanjang masa jabatan itu, tak terlalu banyak prestasi kepolisian yang lahir,” tegasnya.

“Sebaliknya, makin meningkat ketidakpuasan dan apatisme publik terhadap institusi ini,” tegas Ray.

“ Dengan begitu, lebih dari cukup menjadi dasar bagi pak Sigit untuk mundur dari jabatannya,” kata aktivis 98 ini.

Untuk kasus kematian Affan, Ray turut berduka cita mendalam. Sebab, kata Ray, nyata-nyata kematiannya disebabkan oleh lindasan mobil barracuda yang seperti enggan berhenti.

“Alih-alih berhenti, mobil barracuda tersebut tetap melaju dan dengan sendirinya membuat badan Affa terlindas oleh beban yang mencapai hampir 10 ton,” tegasnya.***