POJOKSATU.ID - Proses pendataan dampak kerusakan akibat gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur menghadapi tantangan berat akibat terputusnya saluran komunikasi.

Kendala jaringan telekomunikasi yang merata di sejumlah daerah membuat arus informasi antara markas pimpinan dan jajaran lapangan menjadi terhambat.

Wilayah Kabupaten Sikka, khususnya kawasan Maumere, terindikasi mengalami tingkat kerusakan yang cukup parah dibandingkan area lainnya.

Namun, rincian mengenai skala kerusakan fisik secara menyeluruh masih belum dapat dihimpun secara utuh oleh aparat berwenang.

Baca Juga: Polda NTT Utamakan Penyelamatan Warga dan Siapkan Posko Bantuan Pasca Gempa M 7,7

Selain persoalan sinyal seluler, terputusnya pasokan aliran listrik juga menjadi hambatan utama dalam proses pemulihan awal di lapangan.

Gangguan pada suplai energi listrik ini turut berdampak langsung pada operasional infrastruktur transportasi udara di Flores.

Beberapa bandara di wilayah terdampak dilaporkan belum dapat didarati oleh pesawat terbang akibat keterbatasan sarana navigasi dan penerangan.

Kondisi tersebut memaksa rombongan pimpinan daerah menunda kunjungan peninjauan langsung ke titik episentrum hingga situasi penerbangan memungkinkan.

Baca Juga: BMKG Catat Kenaikan Muka Air Laut, Potensi Tsunami Terdeteksi di Sejumlah Titik Pesisir NTT dan Sulawesi

Pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan penyedia layanan teknis untuk memulihkan jaringan komunikasi darurat.

Upaya perbaikan pemancar sinyal dan pemulihan arus listrik menjadi prioritas penting agar koordinasi evakuasi berjalan efektif.

Hambatan geografis dan teknis ini menuntut kesabaran ekstra dari tim penyelamat yang bekerja di lapangan.

Pendataan kerugian materiil maupun korban jiwa diprediksi baru bisa dirampungkan setelah akses komunikasi kembali pulih sepenuhnya.***