POJOKSATU.id - Banjir dan longsor melanda tujuh kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel), menewaskan sembilan orang.

Bencana alam ini menyebabkan rumah-rumah warga terbawa arus dan mengganggu akses transportasi.

Kejadian banjir yang mematikan, dipicu oleh hujan lebat, terjadi pada Jumat dini hari, tanggal 3 Mei 2024.

Kabupaten-kabupaten yang terkena dampak termasuk Luwu, Enrekang, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Wajo, dan Bone.

Baca Juga: Malaysia Berpotensi Melaju ke Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026

Luasnya dampak terparah terjadi di Luwu, dimana tujuh orang tewas karena tertimbun longsor.

Satu korban lainnya ditemukan di Sidrap, dan satu lagi di Bone, akibat terseret arus banjir.

7 Warga Tewas Akibat Longsor

Longsor yang terjadi di Desa Buntu Sarek, Kecamatan Latimojong, Luwu pada Jumat (3/5) sekitar pukul 04.00 Wita.

Longsor telah menewaskan tujuh warga, dengan korban yang didominasi oleh warga lanjut usia.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo, "Korban longsor meninggal dunia di Desa Buntu Sarek, Kecamatan Latimojong, berjumlah 7 orang."

Para korban yang meninggal adalah Rumpak (97), Jatima (55), Rima (84), Misdar (29), Mawi (57), Sukma (9), dan Kapila (84).

Penyebab longsor tersebut adalah tanah yang labil di lereng gunung, yang menjadi rapuh akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Latimojong.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Luwu, Amiruddin, mengungkapkan bahwa banjir juga merendam 13 kecamatan, mengakibatkan sekitar 1.200 warga mengungsi.

"Data sementara menunjukkan ada 13 kecamatan yang terdampak, dengan tujuh korban meninggal dunia akibat longsor," kata Amiruddin.

Amiruddin juga menjelaskan bahwa ketinggian air di tiap kecamatan rata-rata mencapai 1 hingga 1,5 meter.

Tim SAR gabungan sedang melakukan evakuasi secara bertahap.

"Kami masih melakukan evakuasi warga, dengan jumlah warga yang mengungsi sekitar 1.200 jiwa, data ini masih sementara," katanya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa ada 15 rumah warga yang hanyut akibat banjir.

Dengan 3 rumah di Kecamatan Bajo Barat dan 12 rumah lainnya di Kecamatan Suli Barat.

"Jadi total 15 rumah hanyut, dan total rumah warga yang terdampak banjir bandang sebanyak 1.145 rumah," tambah Amiruddin.

Selain itu, banjir di Luwu juga menyebabkan akses lalu lintas di Jalan Poros Belopa-Makassar, tepatnya di Kecamatan Suli, lumpuh total.

Situasi ini menyebabkan kemacetan dan antrean kendaraan yang panjang.

Kasat Lantas Polres Luwu, AKP Jumanto Agung, menjelaskan bahwa akses lalu lintas kembali normal setelah air mulai surut pada malam hari.

Namun, pengendara tetap diminta untuk tetap waspada karena banyak jalan yang berlubang dan ambles akibat banjir.

Serta adanya material lumpur yang membuat jalan sedikit licin.***