POJOKSATU.id - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Sumatera Utara pada Senin pagi menjadi sorotan nasional.
Bukan sekadar karena status darurat bencana yang melanda wilayah tersebut, tetapi juga karena cara presiden menembus lokasi yang sulit dijangkau.
Dengan banyaknya akses darat yang terputus akibat banjir dan longsor, Prabowo memilih jalur udara untuk memastikan dirinya bisa tiba langsung di pusat terdampak di Tapanuli Tengah (Tapteng).
Baca Juga: Batik Siger: Dari Lampung untuk Nusantara, Bertumbuh Lewat Pemberdayaan Rumah BUMN BRI
Prabowo mendarat di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, sekitar pukul 08.00 WIB 1 Desember 2025.
Tanpa jeda panjang, ia langsung berganti moda transportasi dengan helikopter menuju Tapteng.
Keputusan ini bukan sekadar pilihan cepat, melainkan satu-satunya cara untuk menembus daerah yang hingga hari ini masih terisolasi karena kerusakan parah di sejumlah titik jalan penghubung.
Jalur Darat Lumpuh, Prabowo Harus Ambil Rute Udara
Sejak akhir November, hujan ekstrem memicu longsor besar dan banjir bandang di sejumlah kabupaten di Sumut.
Tapanuli Tengah menjadi salah satu wilayah paling terdampak dengan banyaknya desa terputus akibat ambruknya jembatan.
Jalan tertimbun longsor, hingga lumpuhnya infrastruktur transportasi.
Baca Juga: PPPK vs PNS! Nasib Guru Honorer Terombang-ambing di 2025, Kok Bisa? Ini Penjelasannya
Di beberapa titik, jalan negara tidak bisa dilalui kendaraan berat maupun ringan.
Tim evakuasi BNPB, Basarnas, TNI, hingga relawan pun mengandalkan perahu dan jalur kaki untuk mencapai warga.
Dalam kondisi ini, penggunaan helikopter bukan lagi pilihan mewah melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan distribusi bantuan dan koordinasi tanggap darurat berjalan.
Helipad Dadakan di GOR Pandan: Titik Pendaratan Presiden
Baca Juga: Batik Siger: Dari Lampung untuk Nusantara, Bertumbuh Lewat Pemberdayaan Rumah BUMN BRI
Koordinasi sigap dilakukan pemerintah daerah dan aparat keamanan.Helipad di Lapangan GOR Pandan, Kecamatan Pandan, Tapteng, dipilih sebagai lokasi pendaratan.
Area tersebut dianggap paling aman dan mudah dijangkau dari pusat penanganan bencana.
Begitu tiba, Prabowo langsung menerima laporan situasi terkini dari pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, dan tim BNPB.
Kunjungan ini tak hanya simbolik.
Prabowo ingin memastikan langkah evakuasi, penanganan korban, hingga distribusi logistik berlangsung tanpa hambatan.
Ratusan Warga Menjadi Korban, Situasi Masih Kritis
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 November mencatat jumlah korban meninggal di Sumatera Utara mencapai 217 jiwa.
Baca Juga: Batik Siger: Dari Lampung untuk Nusantara, Bertumbuh Lewat Pemberdayaan Rumah BUMN BRI
Sementara korban hilang tercatat 209 orang.
Skala kerusakan yang besar ini membuat wilayah Tapanuli dan sekitarnya berada dalam masa darurat berkepanjangan.
Puluhan desa terendam, ratusan rumah hanyut, dan ribuan warga harus mengungsi.
Dengan situasi itu, kehadiran presiden dinilai penting untuk mempercepat langkah pemulihan.
Dalam kunjungannya, Prabowo menegaskan bahwa semua kemampuan nasional telah dikerahkan.
Baca Juga: Terjun Bebas dari Lantai Empat Solo Grand Mall, Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan
Pesawat A-400M dan Hercules mengirimkan bantuan logistik ke titik terisolasi.
Helikopter TNI AU melakukan distribusi bergilir untuk menjangkau desa yang belum terhubung.
Tim gabungan memperbaiki jaringan komunikasi yang lumpuh akibat banjir.
Baca Juga: Batik Siger: Dari Lampung untuk Nusantara, Bertumbuh Lewat Pemberdayaan Rumah BUMN BRI
Tenaga medis, alat kesehatan, hingga logistik pangan diturunkan ke posko pengungsian.
Presiden juga memerintahkan penambahan alat berat untuk percepatan pembukaan akses darat yang tertimbun longsor.
Kehadiran Presiden Jadi Penegasan Komitmen Penanganan Bencana.
Baca Juga: PPPK vs PNS! Nasib Guru Honorer Terombang-ambing di 2025, Kok Bisa? Ini Penjelasannya
Kunjungan Prabowo ke Sumut menunjukkan bahwa pemerintah memprioritaskan penanganan bencana ini pada skala nasional.
Meski harus melewati jalur udara, presiden memastikan dirinya bisa melihat langsung kondisi warga terdampak dan mengevaluasi kebutuhan mendesak di lapangan.
Langkah ini sekaligus menjadi penegasan bahwa fokus pemerintah bukan hanya pada fase darurat, tetapi juga fase lanjutan berupa rehabilitasi dan rekonstruksi.
Mulai dari pembangunan kembali rumah warga, perbaikan infrastruktur dasar, hingga evaluasi sistem peringatan dini agar bencana serupa tidak kembali memakan korban besar.
Kehadiran presiden di saat akses darat sulit ditembus menimbulkan harapan baru bagi warga.
Banyak di antara mereka yang belum kembali ke rumah karena kondisi tidak memungkinkan.
Baca Juga: Batik Siger: Dari Lampung untuk Nusantara, Bertumbuh Lewat Pemberdayaan Rumah BUMN BRI
Posko-posko pengungsian masih penuh dan kebutuhan dasar meningkat.
Dengan datangnya presiden, warga berharap bantuan semakin cepat, perbaikan jalan diprioritaskan, dan kehidupan bisa kembali berjalan normal.***




