POJOKSATU.id, JAKARTA-- Akademisi Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, Firdaus Syam mengatakan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berpotensi jadi ‘Matahari Baru’ dalam Pilpres 2029.
Hal ini menurut Firdaus karena Sjafrie dinilai memegang posisi strategis dan mempunyai karakter petarung.
"Menhan Sjafrie secara budaya politik memiliki peluang sebagai matahari baru dalam Pilpres 2029," kata Firdaus Syam dalam diskusi publik yang digelar DPP Indonesia Youth Congress, Rabu (4//3/2026).
Baca Juga: Sjafrie Sjamsoeddin Masuk Bursa Pilpres 2029, Prabowo Perlu Waspada SBY Jilid II
Menurut Firdaus, orang-orang Sulawesi itu pada dasarnya berani-berani, cerdas, dan pejuang, misalnya seperti Bj. Habibie, Yusuf Kalla, Amir Yusuf hingga Sjafrie Sjamsoeddin.
"Sjafrie sebagai elit politik yang memiliki posisi strategis, jaringan inti Presiden Prabowo Subianto," ucapnya.
Sebelumnya, dari Hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029.
Termasuk, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Wajah-wajah baru itu, masuk dalam 10 besar tokoh untuk menjadi bakal capres 2029.
Dalam survei itu, Sjafrie Sjamsoeddin berada di urutan ke-7 dengan tingkat elektabilitas di angka 7,5 persen disusul Purbaya Yudhi Sadewa 4,9 persen dan Sherly Tjoanda 3,8 persen. Sementara di puncak elektabilitas dikuasai Prabowo Subianto dengan angka 22,3 persen. Angka tersebut jauh melampaui tokoh lainnya.
Survei Indonesian Public Institute (IPI) digelar 30 Januari 2026 hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden yang merupakan masyarakat berusia 17 tahun - 65 tahun dan berasal dari 35 Provinsi di Indonesia.
Teknik sampling yang digunakan pada riset ini adalah Multistage Random Sampling. Metode ini adalah teknik sampling di mana pemilihan sampel dilakukan dalam beberapa tahap (stage), dari unit besar ke unit yang lebih kecil, dan setiap tahap dilakukan secara acak (random).
Berdasarkan teknik sampling tersebut, sampel berasal dari 35 Provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan ± 95 persen.***




