POJOKSATU.id – Selama ini, masyarakat sering menganggap air pegunungan adalah pilihan terbaik untuk diminum.
Label “air pegunungan alami” di botol membuat banyak konsumen percaya air tersebut lebih murni dan sehat. Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sebuah studi yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2024 menemukan fakta menarik.
Baca Juga: Kontribusi Rp150 Triliun per Tahun, Tapi Perlindungan Buruh Migran Masih Rapuh
Beberapa sumber air pegunungan alami ternyata mengandung bakteri coliform dan E. coli di atas ambang batas aman. P
adahal, dua bakteri ini bisa menjadi indikator adanya kontaminasi biologis dalam air yang bisa membahayakan kesehatan, terutama jika dikonsumsi tanpa pengolahan memadai.
Fakta Ilmiah Air Pegunungan Tak Selalu Steril
Baca Juga: Truk Tabrak Mobil di Purworejo, 3 Orang Luka dan 1 Masih Terjepit di Dalam Kendaraan
Peneliti UGM memeriksa sejumlah sumber mata air di lereng Merapi dan wilayah perdesaan di Jawa Tengah.
Hasilnya, meskipun sebagian besar air masih tergolong jernih secara fisik dan memiliki kadar mineral yang baik.
Sekitar 28% sampel mata air alami menunjukkan kandungan bakteri yang melampaui baku mutu air minum.
Baca Juga: 1.035 Calon PPPK Paruh Waktu di Payakumbuh Ikuti Sosialisasi, Bukti Kebijakan Mulai Jalan di Daerah
Faktor penyebabnya beragam.
Air pegunungan sering kali mengalir di permukaan yang terbuka, melewati tanah dan area pemukiman
Sehingga mudah terpapar kontaminasi mikroorganisme dari limbah manusia maupun hewan.
Selain itu, perubahan tata guna lahan di daerah hulu.
Baca Juga: 5 Guru yang Jadi Pahlawan Nasional Indonesia, Nomor 3 Pasti Kamu Kenal!
Seperti pembukaan lahan pertanian dan pembangunan, juga meningkatkan risiko pencemaran alami.
Air Sumur Bor Lebih Dalam, Lebih Terlindungi
Berbeda dengan mata air permukaan, air tanah dalam (yang diambil lewat sumur bor) umumnya lebih terlindungi oleh lapisan geologi bumi.
Baca Juga: 5 Guru yang Jadi Pahlawan Nasional Indonesia, Nomor 3 Pasti Kamu Kenal!
Lapisan batuan dan sedimen di kedalaman puluhan hingga ratusan meter bertindak sebagai penyaring alami.
Menahan partikel mikrobiologis dan polutan dari permukaan.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan 2024.
Baca Juga: Kontribusi Rp150 Triliun per Tahun, Tapi Perlindungan Buruh Migran Masih Rapuh
Air sumur bor dalam dengan kedalaman di atas 60 meter cenderung bebas dari bakteri patogen dan memiliki stabilitas kimia yang lebih tinggi.
Namun, kualitas ini bergantung pada konstruksi sumur yang baik dan pengawasan rutin. Jika pengeboran dangkal atau sistem pipa bocor, kontaminasi tetap bisa terjadi.
Kandungan Mineral Mana yang Lebih Baik?
Perbandingan data kimia menunjukkan
Air pegunungan umumnya memiliki TDS (Total Dissolved Solids) lebih rendah, yaitu sekitar 50–150 mg/L, membuatnya terasa lebih ringan.
Baca Juga: Mengupas Motif Politik di Balik Gelar Pahlawan Nasional untuk Suharto
Air tanah dalam dari akuifer dalam bisa memiliki TDS lebih tinggi, mencapai 200–400 mg/L.
Namun masih dalam batas aman dan memberi kontribusi mineral seperti kalsium, magnesium, dan natrium yang bermanfaat bagi tubuh.
Berdasarkan standar Permenkes No. 492 Tahun 2023, kadar TDS maksimal air minum adalah 500 mg/L artinya keduanya masih memenuhi syarat konsumsi.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Jadi Solusi atau Masalah Baru bagi Tenaga Honorer Indonesia?
Apa Artinya bagi Konsumen?
Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas air minum tidak bisa diukur hanya dari klaim “alami” atau “pegunungan”.
Baik air pegunungan maupun air sumur bor bisa sehat dan layak konsumsi.
Baca Juga: Mengupas Motif Politik di Balik Gelar Pahlawan Nasional untuk Suharto
Selama pengambilannya dilakukan secara benar, terlindung dari sumber pencemar, dan melalui pengujian berkala.
Konsumen perlu lebih kritis membaca label dan laporan uji kualitas air dari produsen AMDK. Pastikan ada izin BPOM.
Sertifikat SNI, serta hasil uji mikrobiologi dan kimia dari laboratorium terakreditasi.
Fakta ilmiah membuktikan, air pegunungan tidak selalu lebih sehat dibanding air sumur bor.
Kunci kualitas air minum bukan pada lokasinya tetapi pada perlakuan, pengawasan.
Baca Juga: Mengupas Motif Politik di Balik Gelar Pahlawan Nasional untuk Suharto
Dan proses pengemasan yang menjaga kemurnian hingga ke tangan konsumen.
Dengan meningkatnya kesadaran publik, industri AMDK.
Kini dituntut lebih jujur dan ilmiah dalam memasarkan produknya. Karena bagi konsumen masa kini, kejujuran label jauh lebih penting daripada sekadar kata “alami.”***




