POJOKSATU.ID - Suasana persidangan kasus penjarahan rumah artis sekaligus anggota DPR RI, Uya Kuya, di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (3/12/2025), mendadak berubah haru. dilansir dari instagram @kapanlagicom

Setelah memberikan kesaksiannya, Uya dihampiri oleh orangtua para terdakwa yang memohon belas kasihan agar anak-anak mereka mendapat keringanan hukuman.

Persidangan yang sejak awal berlangsung tegang itu tiba-tiba dipenuhi isak tangis ketika salah satu ibu dari terdakwa berusaha menghentikan langkah Uya di luar ruang sidang.

Baca Juga: Malam Tahun Baru dalam Hening Festival Lentera, Doa, dan Keindahan yang Menyatu

Dengan suara bergetar dan tubuh gemetar, ia menyampaikan permintaan maaf serta memohon agar anaknya diberikan kesempatan kedua.

Ia mengaku kondisi kesehatan anaknya menurun selama tiga bulan menjalani penahanan.

Momen itu menjadi pusat perhatian karena sang ibu menangis histeris di hadapan Uya.

Baca Juga: Kemensos dan Kemendiktisaintek Membuka Gerbang Kuliah bagi 6.000 Siswa SMA Sekolah Rakyat Lewat

Ia terus memohon agar anaknya tidak dijatuhi hukuman berat. Suaranya yang pecah membuat beberapa pengunjung sidang ikut terbawa suasana.

Beberapa petugas pengadilan pun tampak mencoba menenangkan keluarga terdakwa yang larut dalam emosi.

Uya yang baru saja selesai memberikan kesaksian terlihat mendengarkan dengan tenang.

Situasi tersebut memperlihatkan kontras antara proses hukum yang tengah berjalan dan pergulatan batin para keluarga terdakwa yang berharap keputusan pengadilan tidak menghancurkan masa depan anak-anak mereka.

Baca Juga: Liburan Akhir Tahun Anti-Mainstream, Sensasi Naik Boat Tour dan Nikmati Kembang Api dari Tanjung Perak Surabaya

Persidangan kasus penjarahan rumah Uya Kuya ini sendiri telah menjadi perhatian publik sejak awal, mengingat korban merupakan figur publik sekaligus anggota DPR RI.

Kejadian penjarahan yang terjadi beberapa waktu lalu membuat proses hukum berjalan ketat.

Namun momen emosional di luar sidang memperlihatkan sisi lain dari perkara ini ada keluarga yang turut terdampak dan menanggung beban psikologis besar.

Baca Juga: Kenapa TPG TW 3 Belum Cair? Apakah Akan Dibayarkan Sekaligus TPG TW 4?

Isak tangis sang ibu semakin pecah ketika ia mengulang harapannya agar majelis hakim mempertimbangkan kondisi kesehatan anaknya yang disebut memburuk.

Sementara keluarga terdakwa lain juga tampak mendekat, beberapa ikut menunduk sambil menyeka air mata.

Mereka menyampaikan harapan serupa: agar anak-anak mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Baca Juga: Diskon Nataru KAI 30 Persen Dibuka! Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Pesannya di Sini

Situasi dramatis ini membuat suasana sekitar PN Jakarta Timur berubah seketika. Dari yang mulanya fokus pada proses hukum, kini dominasi emosi memenuhi lorong pengadilan.

Publik yang hadir ikut memperhatikan interaksi itu dengan penuh simpati.

Meski demikian, proses hukum tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Persidangan dijadwalkan berlanjut sesuai tahapan yang telah ditetapkan pengadilan.

Baca Juga: Data BNPB Konfirmasi 753 Korban Tewas dan Ratusan Hilang, Jutaan Warga Terdampak di 50 Kota/Kabupaten

Permohonan keluarga terdakwa akan menjadi bagian dari pertimbangan yang nantinya disampaikan melalui jalur resmi dalam agenda persidangan berikutnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap perkara pidana tidak hanya menyentuh para pihak yang terlibat langsung, tetapi juga keluarga yang ikut menanggung dampak emosional, sosial, dan psikologis.

Sidang Uya Kuya hari itu menjadi bukti bagaimana keadilan dan kemanusiaan kerap berjalan berdampingan dalam ruang pengadilan.***