POJOKSATU.id - Setelah rampung, akhirnya 'Galifakta' resmi diluncurkan.

Sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang membantu publik memeriksa fakta dengan cepat, efisien, dan terpercaya.

AI Galifakta ini merupakan hasil koalisi Cek Fakta bersama ICT Watch.

Aplikasi ini sengaja dihadirkan merespon gelombang disinformasi di era digital kian sulit dibendung.

Baca Juga: Janji Pemerataan Layanan Kesehatan, Realitanya Masih Jauh di Pelosok

Di tengah derasnya arus informasi, publik sering kali kesulitan membedakan mana fakta dan mana manipulasi.

 

Kolaborasi Lintas Media Lawan Disinformasi

Koalisi Cek Fakta yang beranggotakan sejumlah organisasi atau lembaga media dan jurnalis.

Antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI), *Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dan Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFINDO).

Bersama ICT Watch serta 102 media daring nasional, resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada 11 November 2025.

Baca Juga: Hampir Sepekan, Satu Korban Bom SMAN 72 Masih Parah, Sisanya Gangguan Pendengaran 90 Persen

Langkah ini menjadi penegasan komitmen bersama dalam memanfaatkan teknologi AI secara etis dan transparan.

Terutama untuk memperkuat literasi digital dan menekan laju disinformasi yang mengancam ruang publik.

 

Mengenal Aplikasi AI 'Galifakta'

Galifakta dikembangkan menggunakan platform Google Gemini Canvas, dan dirancang sebagai alat bantu publik untuk memverifikasi informasi secara cepat dan mudah.

Melalui integrasi dengan database hasil pemeriksaan fakta dari jejaring media Koalisi Cek Fakta.

Aplikasi ini mampu menampilkan hasil debunking serta tautan langsung ke sumber asli berita yang telah diverifikasi.

Koordinator Koalisi Cek Fakta, Adi Marsiela menyebut, inovasi ini merupakan tonggak penting dalam memerangi hoaks.

Baca Juga: Kado Spesial Jelang Hari Guru Nasional, Kemenag Umumkan 101.786 Guru Madrasah dan Guru Agama Lulus PPG 2025

"Galifakta memberi alternatif baru bagi publik untuk mendapatkan hasil cek fakta yang cepat, cermat, dan non-partisan," ujarnya.

Adi juga menegaskan bahwa kolaborasi ini memperluas akses publik terhadap jurnalisme verifikasi, sembari mendorong keterlibatan masyarakat dalam melawan disinformasi.

 

AI Etis dan Kolaboratif untuk Publik

Sementara Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti menekankan, kerja sama ini tidak berhenti pada pengembangan alat semata.

"Kami ingin agar teknologi AI tidak hanya membantu pemeriksa fakta, tapi juga memberdayakan masyarakat luas untuk ikut aktif melawan disinformasi," katanya.

Baca Juga: Marsinah Akhirnya Diakui Negara! Kisah Buruh Perempuan yang Gugur Memperjuangkan Keadilan Kini Jadi Pahlawan Nasional

Melalui Galifakta, publik dapat melakukan pencarian terhadap isu tertentu dan langsung diarahkan pada hasil verifikasi dari media mitra, lengkap dengan sumber dan penjelasan singkat hasil pemeriksaan.

Langkah ini dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap jurnalisme kolaboratif dan dorongan terhadap tata kelola AI yang lebih bertanggung jawab di Indonesia.

 

Diskusi Publik: Tantangan dan Etika Penggunaan AI

Sebagai bagian dari acara penandatanganan MoU, Koalisi Cek Fakta dan ICT Watch juga menggelar diskusi publik bertajuk "Tantangan dan Peluang Pemanfaatan AI dalam Pemeriksaan Fakta".

Diskusi ini menghadirkan Bayu Galih dari Koalisi Cek Fakta dan Donny Utoyo dari ICT Watch, serta dimoderatori oleh Naharin Ni’matun.

Para narasumber menyoroti potensi besar AI dalam membantu jurnalis dan masyarakat menghadapi banjir informasi palsu, sekaligus mengingatkan pentingnya etika dan transparansi dalam penerapannya.

AI, kata mereka, hanyalah alat bantu—tanggung jawab tetap berada pada manusia untuk memastikan kebenaran dan konteks dari setiap informasi yang beredar.

 

Manfaat Galifakta bagi Masyarakat

Dengan hadirnya Galifakta, masyarakat kini memiliki sarana praktis untuk:

Baca Juga: JANGAN TERJEBAK! Ini 7 Tipe Soal HOTS yang Paling Sering Muncul di Tes Substantif PPG 2025!

1. Memeriksa klaim informasi viral tanpa harus mencari satu per satu di berbagai situs.

2. Mengakses hasil pemeriksaan resmi dari jaringan media terpercaya.

3. Belajar mengenali ciri disinformasi secara mandiri, meningkatkan literasi digital individu.

Inovasi ini juga memperkuat kolaborasi lintas sektor antara jurnalis, aktivis digital, akademisi, dan masyarakat sipil untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

 

Fakta dan Dukungan Data

Menurut data MAFINDO, selama 2024–2025 terdapat peningkatan lebih dari 40 persen konten misinformasi politik dan sosial yang beredar di media sosial.

Baca Juga: Etis atau Tidak, Uang Koruptor untuk Bayar Utang Negara?

Fakta ini menegaskan pentingnya kehadiran teknologi seperti Galifakta, yang mampu mendeteksi pola penyebaran hoaks dan membantu publik memahami konteks di balik sebuah klaim.

ICT Watch berharap, ke depan Galifakta dapat terintegrasi langsung dengan platform media sosial agar masyarakat bisa memeriksa fakta secara real-time, tanpa perlu keluar dari aplikasi yang mereka gunakan.

Peluncuran Galifakta menjadi langkah nyata dalam menempatkan AI di jalur yang benar bukan sebagai penyebar hoaks, tetapi sebagai penjaga kebenaran.

Kolaborasi Koalisi Cek Fakta dan ICT Watch ini menandai babak baru dalam pemberantasan disinformasi dan penguatan ekosistem literasi digital di Indonesia.

Teknologi boleh berkembang, tetapi nilai dasar jurnalisme tetap sama: menyampaikan kebenaran dengan tanggung jawab dan empati.***