PojokSatu.id — Ahmad Sahroni, politisi flamboyan yang sering viral karena gaya nyentriknya, kembali menggebrak publik.
Dalam podcast terbarunya, pria yang dikenal sebagai “Crazy Rich Priok” ini menyampaikan gagasan tak biasa anggota DPR sebaiknya tidak menerima gaji sama sekali.
Dengan nada santai tapi serius, Sahroni menantang logika umum soal jabatan publik di Indonesia.
Baca Juga: CPNS 2026 Bisa Daftar Tanpa TOEFL? Ini Penjelasan dan Daftar Instansinya
“Yang menjadi anggota DPR ke depan enggak usah pakai gaji,” ujarnya tegas.
“Kalau mau jadi pejabat negara, niatnya bukan cari uang.”
“Kalau Mau Jadi Pejabat, Jangan Kejar Duit”.
Menurut Sahroni, banyak orang yang salah niat ketika ingin terjun ke dunia politik.
Bukan karena panggilan jiwa, tapi karena tergoda fasilitas dan pendapatan yang dijanjikan jabatan.
Bagi dia, inilah akar dari krisis moral di dunia politik saat ini.
Baca Juga: Efek Domino Bersih-Bersih ASN 2026, Siapa yang Aman dan Siapa yang Terancam?
“Udah ini ide gue dah,” katanya.
“Yang mau jadi anggota DPR, ya terima surat keputusan presiden aja. Tapi gajinya nol. Nih, enggak usah dikasih gaji.”
Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos membuat pernyataan itu terdengar ekstrem — tapi justru menggugah banyak pendengar.
Menurutnya, jika sistem seperti itu diterapkan, hanya orang yang benar-benar punya niat melayani rakyat yang akan maju.
Baca Juga: Efek Domino Bersih-Bersih ASN 2026, Siapa yang Aman dan Siapa yang Terancam?
“Kalau udah enggak ada gaji, enggak ada lagi yang kejar jabatan cuma buat flexing.”
Sindiran Tajam Dari Flexing ke Sederhana Palsu
Selain bicara soal gaji, Sahroni juga menyoroti fenomena “anti-flexing” yang belakangan ramai dibahas di media sosial dan dunia politik.
Baca Juga: Diprediksi Gagal di Lapangan, BSU Digital 2026 Masih Tersendat Karena Server Error dan Data Ganda
Ia menilai, banyak pejabat yang berusaha tampil sederhana hanya demi pencitraan.
“Ada orang yang makan bakso dikontenin, katanya pejabat sederhana,” sindirnya.
“Padahal bayar Rp20 ribu juga. Itu juga flexing, cuma gayanya sederhana!”.
Baca Juga: TPA Jatiwaringin Disulap Jadi Sumber Energi, Andra Soni Pimpin Transformasi Lingkungan Banten
Menurut Sahroni, flexing bukan soal kaya atau miskin, tapi soal kejujuran dalam menampilkan diri.
Ia menegaskan bahwa pejabat publik seharusnya tidak perlu pura-pura hidup sederhana kalau memang tidak demikian.
“Kalau sederhana tapi palsu, itu tipu-tipu kampung semu,” ujarnya tajam.
Baca Juga: CPNS 2026 Bisa Daftar Tanpa TOEFL? Ini Penjelasan dan Daftar Instansinya
“Lebih baik jujur aja iya, gua suka barang bagus, tapi gua enggak maling.”
“Gaji Kecil, Tapi Tanggung Jawab Gede”
Dalam obrolan yang sama, Sahroni mengaku bahwa gaji DPR sebenarnya bukan sesuatu yang besar dibandingkan dengan tanggung jawab dan tekanan yang mereka hadapi.
Baca Juga: 3.000 PPPK Paruh Waktu Sudah Lolos Tapi Belum Punya NIP, Begini Penjelasan Resminya
Ia bahkan menegaskan tidak tahu pasti berapa besar nominal gaji bulanannya sebagai anggota DPR.
“Hari ini aja gua baru tahu tunjangan Rp50 juta,” katanya sambil tertawa.
“Itu pun bukan uang yang gua nikmatin. Gua banyakin sedekah tiap Jumat.”
Baca Juga: Tim Sepak Bola Banten Menggila di Popnas XVII 2025, Sapu Bersih Tiga Kemenangan
Sahroni menyebut, sejak jadi anggota DPR tiga periode, ia tidak pernah menjadikan gaji negara sebagai sumber hidupnya.
Sebagai pengusaha, penghasilannya sudah lebih dari cukup.
“Flexing Bukan Dosa, Asal Enggak Bohong”
Baca Juga: 3.000 PPPK Paruh Waktu Sudah Lolos Tapi Belum Punya NIP, Begini Penjelasan Resminya
Sahroni pun tak menampik bahwa dirinya sering dituduh “pamer harta” di media sosial.
Namun, ia menilai, yang terpenting bukan soal barang yang dipamerkan, tapi soal asal-usulnya.
“Gua suka jam mahal, iya. Tapi semua dari hasil kerja keras sebelum jadi anggota DPR,” tegasnya.
“Flexing itu enggak dosa. Yang dosa itu kalau flexing dari hasil maling.”
Ia bahkan menertawakan rencana munculnya “Undang-Undang Anti Flexing” yang sempat ramai dibicarakan publik.
Baca Juga: TPA Jatiwaringin Disulap Jadi Sumber Energi, Andra Soni Pimpin Transformasi Lingkungan Banten
“Kalau gitu makan lele juga flexing dong! Cuma gayanya beda, sederhana aja,” katanya sambil ngakak.
Usulan Sahroni soal DPR tanpa gaji dan kritiknya terhadap flexing bukan sekadar celetukan spontan.
Ia ingin menunjukkan bahwa politik di Indonesia sudah terlalu sibuk dengan citra, sementara substansinya tertinggal.
Baca Juga: Tinawati Andra Soni Dorong Sinergi CSR dan Posyandu untuk Percepat Pemberdayaan Keluarga di Banten
“Kalau semua pejabat berani nol gaji, baru deh kelihatan siapa yang benar-benar mau kerja buat rakyat,” katanya menutup pembicaraan.
Di balik gaya nyentrik dan ucapannya yang sering bikin heboh, Ahmad Sahroni menyimpan refleksi yang tajam jabatan publik bukan tempat mencari uang, tapi tempat mengabdi.
Dan di tengah dunia politik yang makin penuh pencitraan, pernyataan seperti itu terasa langka tapi justru menampar keras.***




