POJOKSATU.id, JAKARTA-- Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengkritik pertemuan peserta didik (Serdik) Sespimmen Polri dengan mantan Presiden Jokowi di Solo Jateng.
Pertemuan Jokowi dengan Serdik Sespimmen Polri yang diunggah di media sosial (medsos) telah menimbulkan perdebatan dan tafsir macam-macam di publik.
Dia menyebut diunggahnya pertemuan ini di medsos membuat spekulasi publik, salah satunya dugaan post power syndrome.
Menurut lelaki asal Tanjung Priok Jakarta Utara ini, masyarakat bisa saja menganggap Jokowi yang sudah bukan menjadi Presiden RI mengidap post power syndrom.
Baca Juga: Sosok Pajar Priyanto, Anggota DPRD Asahan Ditangkap Usai Terciduk Gelar Judi Sabung Ayam di Rumah
"Kalau di ruang terbuka kan orang anggapannya jadi beda-beda. Wah, ini jangan-jangan Pak Jokowi masih post power syndrome," kata Ahmad Sahroni kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (21/4/2025).
Dia menilai Jokowi bisa saja menyampaikan pembekalan ke peserta Sespimmen Polri secara tertutup.
"Kalau tertutup saja, misalnya mengasih tahu ya, kalian ini harus seperti ini, senang begitu. Tetapi kalau terbuka nanti kan anggapannya nanti oh ini tuh Pak Presiden. Mantan Presiden kok masih panggil-panggil orang begitu," ujarnya lagi.
Bendahara Umum Partai NasDem ini secara pribadi menilai pertemuan itu sah-sah saja, asalkan momen pertemuan itu tidak diunggah sama sekali ke publik atau media sosial.
Baca Juga: Mayoritas dari China, 7 Produk Dilabeli Halal Padahal Makanan Mengandung Babi, Ini Daftarnya
“Ini pribadi ya, kurang pas. Karena sekarang Pak Jokowi kan mantan presiden. Kecuali masih presiden, boleh aja. Tapi kan ini institusi yang notabene lagi sekolah. Ya mungkin dapat arahan sewajarnya kalau dia tertutup aja, fine,” katanya.
Dengan munculnya foto pertemuan ini ke publik atau media sosial, masyarakat dapat saja memberikan penilaian yang berbeda-beda.
Menurut Sahroni, dibukanya pertemuan Jokowi dan peserta Sespimmen di media sosial telah memunculkan kesan yang bermacam-macam dari publik.***




